Rupiah Dibuka ke Rp17.939/USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.939/USD

Eko Nordiansyah • 13 October 2026 09:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelamahan. Rupiah tertekan saat dolar AS mengalami penguatan menjelang rilis data inflasi.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 13 Oktober 2026, rupih berada di level Rp17.939 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 26 poin atau setara 0,15 persen dari Rp17.913 per USD pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.894 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.879 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cederung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.910-Rp17.960 per USD.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait peluang kenaikan suku bunga. Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem telah mengungkapkan kebutuhan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut guna mengembalikan inflasi ke tingkat target dua persen bank sentral.

Begitu pula dengan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk menurunkan inflasi lebih cepat jika data ekonomi secara umum tetap sesuai dengan perkiraan.

"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," ujar Ibrahim.

Melihat sentimen geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.

Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu pengumuman MSCI seputar ancaman degradasi ke Frontier Market. Pasar saham Indonesia juga potensi dikenakan pembekuan (freeze) yang terus berlanjut. Jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. 

(Eko Nordiansyah)