Dolar AS Menguat, Bertahan di Dekat Level Tertinggi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Menguat, Bertahan di Dekat Level Tertinggi

Eko Nordiansyah • 13 October 2026 08:50

New York: Dolar AS sedikit menguat pada Senin, 12 Oktober 2026, bertahan kuat di level tertinggi dalam hampir 18 bulan didorong oleh kenaikan harga minyak dan pelemahan euro.

Sementara itu, rupee India mencatatkan kinerja harian terbaiknya terhadap dolar sejak awal Juni, setelah bank sentral negara Asia tersebut meluncurkan paket pertahanan agresif untuk meredam spekulasi pasar.

Dikutip dari Investing, Selasa, 13 Oktober 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,4 persen ke level 102,59, level tertinggi sejak 9 April 2025.

Data inflasi utama AS menjadi sorotan

Di tengah penutupan pasar obligasi AS untuk liburan Columbus Day, para pelaku pasar mata uang memusatkan perhatian pada geopolitik, di mana kenaikan harga minyak memperparah kekhawatiran akan inflasi.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan mematikan pada hari Sabtu oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 13 orang termasuk seorang warga negara AS. Berita tersebut membayangi sejumlah perkembangan penting dalam perang antara Rusia dan Ukraina.

Presiden Donald Trump pada Jumat malam mengumumkan kesepakatan dengan Rusia mengenai pasokan tambahan bahan bakar diesel guna membantu menurunkan harga global bahan bakar olahan tersebut. Pada Minggu pagi, Trump juga menyatakan adanya "gencatan senjata energi" yang berlaku segera antara Rusia dan Ukraina.

Meskipun minyak menjadi sorotan utama pada Senin, para pedagang valas minggu ini akan memantau laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS September, yang masing-masing akan dirilis Rabu dan Kamis. Komponen dari kedua indeks tersebut menjadi masukan bagi indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu indeks harga personal consumption expenditures (PCE).

Pembaruan data inflasi ini muncul setelah data ekonomi terkini memicu penyesuaian drastis dalam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, khususnya untuk Oktober.
(Ilustrasi euro. Foto: Freepik)

Euro tertekan masalah fiskal Prancis

Nilai tukar euro turun 0,4 persen menjadi USD1,1155. Mata uang tunggal ini masih terbebani oleh kekhawatiran investor yang terus berlanjut terkait proyeksi defisit anggaran Prancis sebesar 5,4 persen dan proses legislasi yang sangat alot dalam pembahasan rancangan undang-undang anggaran 2027 milik Perdana Menteri Sébastien Lecornu.

Meskipun imbal hasil obligasi pemerintah Prancis (OAT) sedikit melandai pada Senin, selisih imbal hasil (spread) terhadap obligasi Jerman (Bunds) tetap lebar dan mengkhawatirkan, sehingga mempertahankan premi risiko yang tinggi pada mata uang tunggal tersebut.

Di tengah pasar uang yang semakin meyakini Bank Sentral Eropa (ECB) akan mempertahankan sikap kebijakan yang hati-hati dan bergantung pada data, guna mencegah pengetatan kondisi keuangan menghambat pertumbuhan kawasan, euro tidak memiliki dukungan imbal hasil yang memadai untuk mencatatkan pemulihan berkelanjutan terhadap dolar.

Bank sentral India luncurkan langkah drastis

Di Asia, terjadi pergerakan signifikan pada mata uang rupee India; mata uang ini mencatatkan kinerja harian terbaiknya terhadap dolar sejak 5 Juni dan ditutup pada level 95,986. Penguatan ini dipicu oleh intervensi luar biasa yang dilakukan Reserve Bank of India (RBI) pada akhir pekan, yang bertujuan membendung permintaan dolar yang bersifat struktural serta menindak posisi leverage spekulatif.

Mulai Senin, RBI membuka fasilitas khusus valuta asing yang memasok 100 persen kebutuhan dolar harian bagi perusahaan penyulingan minyak milik negara secara langsung dari cadangan bank sentral. Dengan mengeluarkan pembeli energi korporasi terbesar di India tersebut dari pasar valas spot, bank sentral menghilangkan salah satu sumber utama permintaan dolar spot yang terus-menerus.

Untuk membatasi posisi short spekulatif, RBI memangkas ambang batas posisi derivatif valas yang tidak memiliki eksposur perdagangan dasar (underlying) dari USD100 juta menjadi hanya USD5 juta.

Selain itu, RBI melarang pemesanan ulang kontrak derivatif terkait rupee yang sebelumnya dibatalkan dan mewajibkan penyediaan kas sebesar 20 persen sebagai Cadangan Risiko Valuta Asing (FERR) untuk transaksi lindung nilai (hedging) berskala besar.

(Eko Nordiansyah)