PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)
Dukungan terhadap Netanyahu Melemah, Eskalasi Israel Dinilai Bermuatan Politik
Dimas Chairullah • 18 April 2026 15:54
Jakarta: Manuver militer Israel yang terus membuka front pertempuran baru di Timur Tengah dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika politik domestik.
Pengamat Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, menilai eskalasi konflik dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah Israel untuk mempertahankan dukungan di dalam negeri.
Ia merujuk pada sejumlah survei yang menunjukkan penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut Teuku Rezasyah, sekitar 59 persen masyarakat Israel menilai pemerintah melakukan banyak kesalahan, meningkat dari 52 persen pada tahun sebelumnya.
Tekanan Politik dan Dukungan Publik
Teuku Rezasyah juga mengutip laporan media Israel yang menyebut bahwa jika pemilu digelar dalam waktu dekat, koalisi Netanyahu berpotensi kehilangan kekuasaan.“Israel saat ini menghadapi tekanan domestik yang tinggi. Jika pemilu digelar, posisi koalisi Netanyahu diperkirakan akan melemah,” ujarnya kepada Metrotvnews.com, Jumat, 17 April 2026.
Ia menilai situasi konflik dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas politik dengan mengonsolidasikan dukungan publik di tengah situasi darurat.
Dukungan Internasional Ikut Menurun
Selain tekanan domestik, ia juga menyoroti perubahan persepsi di tingkat internasional, khususnya di Amerika Serikat. Menurut Teuku Rezasyah, sekitar 60 persen warga dewasa di AS kini memiliki pandangan negatif terhadap pengaruh Israel dalam kebijakan luar negeri Washington.Ia menambahkan bahwa dalam perspektif historis, sebagian elite Israel memandang kekuatan militer sebagai elemen penting dalam menjaga keamanan nasional.
“Dalam sejarahnya, kekuatan militer sering dipandang sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan,” pungkas Teuku Rezasyah.
Baca juga: Pengamat Soroti Kemungkinan Eskalasi Israel ke Turki usai Konflik Iran