Tinggalkan Berburu, Warga Kalbar Kini Dapat Cuan dari Foto Satwa Liar

Warga Kalimantan memotret dan merekam satwa liar, dok: Instagram @borneofutures

Tinggalkan Berburu, Warga Kalbar Kini Dapat Cuan dari Foto Satwa Liar

Putri Purnama Sari • 19 September 2026 12:44

Jakarta: Warga sejumlah desa di Kalimantan Barat kini memiliki cara berbeda untuk mendapatkan penghasilan dari hutan. Jika sebelumnya aktivitas di hutan identik dengan berburu, sejumlah warga kini justru masuk ke hutan untuk memotret dan merekam satwa liar.

Hasil foto maupun rekaman suara satwa yang mereka temukan dapat menghasilkan uang melalui program pemantauan biodiversitas yang diinisiasi environmental consultancy Borneo Futures.

Program tersebut melibatkan warga dari sembilan desa di Kalimantan Barat. Mereka berperan sebagai observer yang mengirimkan foto atau rekaman suara satwa liar yang ditemukan di sekitar wilayah mereka.

Besaran bayaran yang diterima warga berbeda-beda, tergantung jenis satwa yang berhasil didokumentasikan. Untuk burung yang umum ditemukan, misalnya, warga dapat memperoleh sekitar Rp5.000.

Sementara itu, dokumentasi satwa seperti orangutan memiliki nilai yang lebih tinggi, yakni mencapai sekitar Rp130.000. Menariknya, warga yang paling aktif dan berhasil mengumpulkan banyak observasi dapat memperoleh penghasilan hingga Rp10 juta per bulan.

Ratusan Ribu Observasi Satwa Terkumpul


Dok: Instagram @borneofutures

Program tersebut tidak hanya memberikan alternatif penghasilan bagi masyarakat sekitar hutan, tetapi juga membantu mengumpulkan data mengenai keberadaan satwa liar.

Menurut Borneo Futures, sudah lebih dari 350.000 observasi satwa yang dikirimkan melalui program tersebut. Data dari masyarakat kemudian dapat digunakan untuk membantu pemantauan keanekaragaman hayati.

Model ini membuat aktivitas warga di hutan tidak lagi hanya berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga pengumpulan informasi mengenai satwa yang hidup di dalamnya.

Dengan mendokumentasikan satwa menggunakan kamera atau perangkat perekam, warga dapat berkontribusi dalam pemantauan biodiversitas sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.

Borneo Futures Kembangkan Aplikasi Capai

Program pemantauan tersebut juga didukung oleh teknologi. Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Borneo Futures memperkenalkan Capai, aplikasi pengawasan biodiversitas yang digunakan oleh komunitas yang mengikuti program KehatiKu.

Tim Borneo Futures sebelumnya melakukan perjalanan ke sembilan desa di Kalimantan Barat untuk memperkenalkan aplikasi tersebut kepada komunitas peserta program.

Capai dirancang untuk membuat proses pengawasan biodiversitas menjadi lebih sederhana, transparan, dan dapat diandalkan, termasuk di wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan koneksi internet.

Borneo Futures menjelaskan, Capai tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi seluler. Teknologi tersebut menjadi bagian dari platform data biodiversitas terintegrasi yang mendukung berbagai tahapan, mulai dari pengamatan di lapangan, verifikasi, analisis hingga pelaporan.

Platform tersebut juga disebut telah berkembang di luar program KehatiKu. Sejumlah organisasi konservasi dan mitra sektor swasta mulai mengadopsinya untuk mendukung program pemantauan biodiversitas mereka.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat dari program konservasi. Mereka juga dapat terlibat langsung dalam mengumpulkan data mengenai satwa liar di lingkungan sekitar sekaligus memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut.

(Putri Purnama Sari)