18 Orang Utan Korban Karhutla Dievakuasi ke YIARI Ketapang

18 September 2026 14:22

Hutan hujan tropis yang dulunya merupakan rumah bagi satwa liar, termasuk orang utan di Kalimantan, kini lenyap tak bersisa akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keselamatan mereka terancam akibat kobaran api yang terus meluas. Tim penyelamat dari berbagai organisasi berlomba dengan waktu untuk mengevakuasi primata ini sebelum terlambat.

Di Kayong Utara, Kalimantan Barat (kalbar), misalnya. Seekor induk orang utan dan anaknya terjebak di perkebunan sawit setelah terpaksa meninggalkan hutan demi mencari makan dan perlindungan. Induk orang utan tersebut hanya bisa berpindah di atas pohon sawit ketika tim penyelamat gabungan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tiba di lokasi.

"Kami bersama tim YIARI Ketapang melakukan patroli dari Agustus hingga September ini terkait satwa-satwa liar yang terdampak oleh Karhutla. Hari ini, kita berhasil melakukan evakuasi terhadap satu individu orang hutan bersama anakannya yang terdampak oleh karhutla yang tak terkendali," ujar BKSDA Kalbar, Riza Satrio, dikutip dari tayangan Metro Siang Metro TV, Jumat, 18 September 2026. 

Induk orang utan tersebut mengalami dehidrasi dengan kondisi tubuh sangat lemah. Terdapat luka bakar di tangan dan kakinya serta kondisi gigi yang sudah sangat haus. Kondisi gigi ini menjadi petunjuk, makanan apa yang ia konsumsi setelah hutan tempat tinggalnya hancur akibat karhutla yang semakin meluas. 

Bantuan oksigen diberikan sementara oleh dokter hewan saat melakukan pemeriksaan. Sementara itu, BKSDA Kalbar terus berpatroli di area terdampak. BKSDA juga terus merespon laporan warga serta memeriksa satwa yang terdampak. 

Sementara di Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalbar, induk dan anak orang utan yang bernama Mama Noni dan Noni juga berhasil dievakuasi dari hutan yang tertutup kabut asap pekat.

Banyaknya orang utan yang terdesak keluar dari habitatnya menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Kendala tak hanya soal ruang rehabilitasi, tetapi juga soal obat-obatan yang dibutuhkan untuk proses evakuasi kini semakin sulit didapatkan.

"Salah satu yang menjadi kekhawatiran saya adalah kalau jumlah orang utang yang perlu direscue ini semakin banyak, tentu saja resources kita akan semakin lama semakin menipis. Untuk fasilitas kami pun juga ruangnya itu terbatas ya dan gak bisa kami tambah kandang secara cepat untuk menampung banyaknya orang hutan yang harus kami rescue nantinya," ujar Dokter Hewan, Rachel Fedelia.

BKSDA Kalbar mencatat sebanyak 18 orang hutan telah dievakuasi akibat dampak kebakaran hutan dan lahan. Kini mereka dirawat di pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang, jauh dari jangkauan asap dan api. 

Namun, meski berhasil dievakuasi, bukan berarti perjuangan telah usai. Mereka masih harus pulih dari kelaparan, luka-luka, serta dampak paparan asap. Tim dokter hewan terus memantau kondisi mereka untuk memastikan kemungkinan mereka bisa dilepaskan liarkan kembali ke alam bebas. 

(Lutfia Azzahra)

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X