Dolar AS Melemah, 'Digilas' Euro hingga Poundsterling

Dolar AS. Foto: Marketplace.org

Dolar AS Melemah, 'Digilas' Euro hingga Poundsterling

Husen Miftahudin • 18 August 2026 08:23

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin waktu setempat, meski sempat pulih dari posisi terendah dalam lebih dari dua bulan. Tekanan terhadap dolar terjadi seiring berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Mengutip Xinhua, Selasa, 18 Agustus 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,03 persen menjadi 99,636.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1572 dari USD1,1566 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3538 dari USD1,3533 pada sesi sebelumnya.

Dolar AS diperdagangkan pada 159,59 yen Jepang, lebih tinggi dari 159,38 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah menjadi 0,8115 franc Swiss dari 0,8131 franc Swiss.

Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun menjadi 1,3877 dolar Kanada dari 1,3877 dolar Kanada. Dolar AS jatuh menjadi 9,5193 krona Swedia dari 9,5246 krona Swedia.
 

 

Pasar menanti risalah rapat The Fed


Pergerakan dolar turut dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan moderasi tekanan inflasi dan pelemahan aktivitas ekonomi.

Inflasi konsumen dan produsen tahunan pada Juli tercatat lebih moderat, baik pada angka utama maupun inti. Kondisi tersebut terjadi setelah laporan nonfarm payrolls Juli menunjukkan pelemahan yang tidak terduga serta data penjualan ritel yang lebih rendah dari perkiraan pada Jumat.

Rangkaian data tersebut membuat pasar menilai The Fed memiliki ruang untuk tidak segera memperketat kebijakan moneter.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September sekitar 63 persen. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di sekitar 37 persen.

Pasar juga menanti publikasi risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juli. Dokumen tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap arah kebijakan suku bunga.

Tiga presiden bank sentral regional sebelumnya berbeda pendapat dengan keputusan FOMC mempertahankan suku bunga. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati kemungkinan adanya pandangan yang lebih agresif dalam risalah rapat.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Harga minyak batasi pelemahan dolar


Harga minyak yang terus menguat turut menjadi perhatian pasar valuta asing. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, menembus USD90 per barel di tengah meningkatnya ketegangan AS dan Iran terkait Selat Hormuz.

Kedua pihak mengklaim kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Teheran juga menuntut sejumlah persyaratan dipenuhi sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

Sementara itu, Iran berupaya menyusun kerangka pengelolaan selat bersama Oman. Dalam perkembangan tersebut, Fox News mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam tindakan militer terhadap Oman jika negara tersebut dinilai menghambat upaya tersebut.

Hari Senin juga menandai berakhirnya nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada pertengahan Juni. Kesepakatan tersebut sebelumnya mengalami keretakan pada Juli. Trump mengatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan tersebut.

(Husen Miftahudin)