Perwakilan relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Herman Budianto. Foto: Metro TV/Dimas Chairullah.
Disiksa di Penjara Israel, Relawan GSF Tegaskan Tak Gentar
Dimas Chairullah • 24 May 2026 18:09
Jakarta: Para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menegaskan tidak akan pernah mundur dari misi kemanusiaan di Palestina meski baru saja mengalami penganiayaan keji dan penyiksaan brutal di penjara militer Israel. Kekejaman yang mereka alami selama empat hari masa penahanan justru kian mengobarkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme zionis.
"Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan. Yang kami lakukan sangat kecil sekali untuk Palestina, karena saudara-saudara kita di Palestina jauh lebih menderita. Mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina di seluruh dunia," ungkap perwakilan relawan WNI, Herman Budianto, setibanya di Tanah Air, Minggu, 24 Mei 2026.
Baca Juga :
Herman membeberkan, militer Israel melakukan kekerasan fisik dan mental secara sistematis kepada para partisipan dari 52 negara sejak proses pencegatan kapal di perairan internasional hingga interogasi di dalam sel. Sikap represif tersebut dilakukan tanpa pandang bulu terhadap relawan pria maupun wanita, termasuk aktivis kemanusiaan asal Amerika Serikat dan Prancis.
Berdasarkan catatan GSF, sedikitnya 40 relawan internasional mengalami cedera berat akibat hantaman benda tumpul dan popor senjata. Mereka menderita patah tulang rusuk, patah tangan, patah kaki, hingga patah hidung. Di samping kekerasan fisik, sejumlah kasus pelecehan seksual oleh sipir Israel juga dilaporkan menimpa para sandera sipil tersebut.
Herman menambahkan, kondisi di dalam ruang tahanan dirancang sangat tidak manusiawi untuk meruntuhkan mental para relawan. Mereka dipaksa berjalan merangkak menggunakan lutut, dilarang keras menatap mata sipir, hingga dipaksa tidur di atas lantai beton yang basah tanpa sehelai selimut dengan pakaian yang basah kuyup.
"Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Israel itu nyata. Sangat keji, sangat brutal," ujar dia.
.jpeg)
Penyambutan kedatangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Metro TV/Dimas Chairullah.
Namun, blokade mental yang diterapkan Israel terbukti gagal total. Kebrutalan tersebut tidak sedikit pun menyurutkan keberanian para relawan kemanusiaan.
Sebaliknya, kesaksian hidup dari para penyintas ini akan dijadikan bukti otentik untuk memperkuat gugatan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia berat oleh Israel di forum internasional.