Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Tertekan Penurunan Imbal Hasil Obligasi
Eko Nordiansyah • 4 September 2026 08:46
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja terburuknya dalam lebih dari dua minggu pada Kamis, 3 September 2026. Penurunan ini dipicu oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury dan lonjakan tajam nilai tukar yen Jepang.
Dikutip dari Investing, Jumat, 4 September 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,7 persen ke level 98,91.
Dolar melemah seiring meredanya aksi jual obligasi
Dolar AS juga tertekan oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi Treasury. Hal ini terjadi karena para pedagang kembali memborong obligasi setelah aksi jual besar-besaran. Alhasil hal ini sempat mendorong imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak November 2023 pada Selasa. Terakhir, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 3,3 basis poin menjadi 4,761 persen.Aksi jual besar-besaran di pasar pendapatan tetap (fixed-income) dipicu oleh kekhawatiran mengenai inflasi di tengah tingginya harga minyak, ketakutan akan penerbitan utang yang tidak berkelanjutan oleh perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur AI, serta membengkaknya utang fiskal.
Komentar positif dari Gubernur The Fed, Christopher Waller, turut memperbaiki sentimen pasar. Meskipun inflasi masih berada jauh di atas target dua persen Federal Open Market Committee (FOMC), data terbaru menunjukkan bahwa kita akhirnya melihat tanda-tanda disinflasi.
"Jika tren ini berlanjut dalam data yang akan dirilis dua minggu ke depan, saya cenderung mendukung untuk mempertahankan target suku bunga federal funds pada tingkat saat ini," ujar Waller dalam pernyataan yang disiapkan untuk wawancara Reuters NEXT di Washington, D.C.
Anggota FOMC yang memiliki hak suara tersebut menambahkan, ia meyakini kondisi inflasi yang mendasar (underlying inflation) jauh lebih baik daripada yang ditunjukkan oleh angka inflasi inti (core inflation).
Pernyataan ini mencerminkan sikap yang tidak terlalu hawkish dibandingkan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada konferensi tahunan Jackson Hole pekan lalu.
Baca Juga :
Harga Emas Melejit di Tengah Penurunan Dolar AS

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Yen melonjak ke level tertinggi satu bulan
Mata uang Jepang menjadi sorotan di pasar valuta asing pada Kamis setelah lonjakan tajam memperkuat posisi yen hingga mencapai level 155,30 terhadap dolar. Ini merupakan level tertinggi sejak 3 Agustus, hanya beberapa hari setelah intervensi bersejarah yang dilakukan oleh otoritas di Washington dan Tokyo.Termasuk langkah bersama yang signifikan tersebut, Jepang telah menggelontorkan dana sebesar 15 triliun yen (USD99,09 miliar) antara tanggal 30 Juli hingga 26 Agustus untuk memperkuat mata uangnya. Intervensi ini merupakan sebuah rekor tertinggi.
Sebelumnya pada minggu ini, nilai tukar yen sempat menembus angka 160, level yang dianggap sebagai ambang batas penting bagi intervensi yang dipantau oleh Tokyo. Meskipun tidak ada konfirmasi mengenai adanya intervensi pada hari Kamis, spekulasi di kalangan investor terus bermunculan.
Selain langkah-langkah intervensi, yen juga mendapat dukungan dari sinyal hawkish (kebijakan moneter ketat) yang ditunjukkan oleh para pembuat kebijakan Bank of Japan (BoJ) pekan ini.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Gubernur BoJ Kazuo Ueda dalam pertemuan G20 di North Carolina. Bessent menyatakan dukungan kuat terhadap langkah-langkah tegas Jepang di pasar dan kebijakan moneter untuk mengatasi kondisi yen yang dinilai jauh di bawah nilai wajarnya (undervaluation).
Pada Selasa, Ueda mengonfirmasi dalam sebuah konferensi, kenaikan suku bunga akan dibahas pada September. Secara terpisah, anggota dewan BoJ Hajime Takata semakin memperkuat ekspektasi hawkish dengan menyuarakan perlunya jalur penyesuaian suku bunga yang lebih fleksibel.
Euro menguat meski inflasi produsen kembali naik
Di sisi lain, euro naik 0,4 persen menjadi USD1,1632. Penguatan ini terjadi meskipun data dari Eurostat menunjukkan harga produsen industri di zona euro naik 1,6 persen secara bulanan (mtm) pada Juli, sebuah pembalikan tajam dari penurunan 0,3 persen pada Juni.Secara tahunan (yoy), harga produsen meningkat 5,8 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan angka 4,6 persen pada Juni.
Data ini dirilis menjelang keputusan suku bunga ECB pekan depan, bank sentral tersebut diperkirakan secara bulat akan memperketat kebijakan sebesar 25 basis poin.
Nilai tukar dolar Kanada menguat terhadap dolar AS pada Kamis, dengan pasangan mata uang USD/CAD terakhir tercatat turun 0,4 persen ke level 1,3787.
Sementara itu, dolar Australia naik 0,5 persen menjadi USD0,7206, mempertahankan posisinya terhadap dolar AS setelah data ekonomi menunjukkan ketahanan yang berkelanjutan dalam sektor riil ekonomi Australia.
Data dari Biro Statistik Australia menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal Juni tumbuh 0,4 persen secara kuartalan dan 2,1 persen secara tahunan (yoy), melampaui perkiraan analis.
Pada saat yang sama, angka perdagangan bulan Juli mencatat surplus perdagangan yang sehat sebesar 1,923 miliar dolar Australia (USD1,39 miliar), yang didorong oleh kuatnya ekspor sumber daya ke Asia.