Liburan ke Yogyakarta Jangan Lewatkan ke Pasar Ngasem, Ini 5 Rekomendasi Kulinernya

Pasar Tradisional Ngasem Daerah Istimewa Yogyakarta. Instagram @just_bowo

Liburan ke Yogyakarta Jangan Lewatkan ke Pasar Ngasem, Ini 5 Rekomendasi Kulinernya

Whisnu Mardiansyah • 24 December 2025 11:35

Yogyakarta: Menjelang libur akhir tahun, Yogyakarta kembali menjadi magnet bagi ribuan wisatawan yang merindukan pesona budaya dan kulinernya yang khas. Di tengah gemerlap destinasi wisata modern, ada satu tempat yang tetap menjaga keasliannya yaitu Pasar Ngasem.

Terletak di jantung kota, hanya sepuluh menit dari keramaian Malioboro, pasar ini menawarkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar tempat makan, Pasar Ngasem menghidangkan cerita dan tradisi di setiap sajiannya. Dari semangkuk bubur krecek yang menghangatkan pagi hingga selembar apem beras yang mengingatkan pada kenangan masa kecil, setiap hidangan di sini adalah sebuah perjalanan rasa.

Jika Anda mencari cita rasa otentik untuk merasakan denyut nadi Yogyakarta yang sebenarnya, menjauhlah sejenak dari pusat perbelanjaan. Sambangi Pasar Ngasem, duduklah di bangku kayu sederhana, dan biarkan cita rasa tradisional Jawa menyambut dengan kehangatan yang tak ditemukan di tempat lain.

Di sini, liburan Anda bukan hanya tentang bersantai, tetapi juga tentang menyelami warisan rasa yang telah membentuk identitas Kota Gudeg selama puluhan tahun. Pasar Ngasem, yang terletak strategis di Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, bukan sekadar tempat transaksi jual beli. 

Di tengah gelombang modernisasi dan menjamurnya pusat kuliner kontemporer, Pasar Ngasem berdiri tegak mempertahankan perannya sebagai penjaga warisan kuliner tradisional Jawa. Di sini, aroma rempah bercampur dengan cerita, setiap warung menyimpan sejarah keluarga, dan setiap sajian adalah sebuah narasi tentang identitas budaya yang terus hidup.

Sejarah Pasar Ngasem

Nama “Ngasem” sendiri telah melekat lama bagi warga Yogyakarta. Dahulu, pasar ini dikenal sebagai pasar burung tertua dan terbesar di kota ini. Suara kicauan berbagai unggas, dari perkutut lokal hingga burung hias mengisi kawasan tersebut selama puluhan tahun.

Perubahan datang seiring kebijakan penataan kota dan upaya konservasi kawasan budaya Kraton. Aktivitas perdagangan burung akhirnya dipindahkan, membuka babak baru bagi Pasar Ngasem. Alih fungsi menuju pasar tradisional untuk kebutuhan harian dan kuliner pun dilakukan. Transformasi ini tidak menghapus melainkan mengalihkannya. Semangat sebagai pusat aktivitas ekonomi rakyat tetap terjaga, hanya medianya yang berubah dari sangkar burung ke wadah makanan.

Aktivitas di Pasar Ngasem dimulai jauh sebelum matahari terbit. Sejak pukul 05.00 WIB, gerobak-gerobak kayu dan tungku-tungku tradisional telah berderet, menandai dimulainya proses memasak yang akan memenuhi pasar dengan wewangian menggoda.

Pengunjung yang datang akan disambut oleh pedagang yang dengan sabar mengaduk kuali besar berisi bubur, atau mengukus adonan apem di atas api arang. Mayoritas penjual bertahan hingga siang atau sore hari, bergantung pada ketersediaan dagangan yang kerap habis lebih cepat karena permintaan. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk menikmati keseluruhan sajian, sekaligus merasakan atmosfer pasar yang masih belum terlalu ramai oleh pengunjung. Berikut Rekomendasi Kuliner di Pasar Ngasem:

1. Bubur Krecek Yu Ngademi

Warung Yu Ngademi adalah salah satu ikon tersebut. Sudah beroperasi selama puluhan tahun, warung sederhana ini telah mengangkat bubur krecek sebagai hidangan wajib sarapan di Ngasem. Bubur nasi putih yang lembut disandingkan dengan kuah santan pedas berisi “krecek” atau kulit sapi yang dimasak hingga empuk. Rasa gurih, pedas, dan tekstur kenyal yang khas menjadi kombinasi sempurna, biasanya dilengkapi dengan tahu bacem, tempe goreng, atau pepes ikan.

Dengan harga terjangkau antara Rp8.000 hingga Rp15.000 per porsi, popularitasnya membuat hidangan ini kerap habis sebelum tengah hari. Pengunjung disarankan datang pagi untuk mendapatkan pengalaman kuliner yang paling optimal.


Warung Bubur Krecek Yu Ngademi Instagram: @nurulindarty13

 

2. Brongkos Bu Sirep

Warung Makan Bu Sirep menawarkan petualangan rasa yang lebih dalam melalui Brongkos. Hidangan berkuah gelap pekat ini adalah mahakarya rempah Jawa, dengan kluwek sebagai bintang utamanya yang memberikan warna dan rasa yang unik. Berisi daging, tahu, dan kacang tolo, brongkos Bu Sirep disajikan hangat dengan nasi. Warung ini juga terkenal dengan gudeg basahnya yang tidak terlalu manis, menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencicipi gudeg dengan cita rasa yang lebih otentik.

3. Sate Koyor Bu Ira

Bagi pencinta tekstur unik, Warung Bu Ira adalah tujuan untuk mencicipi Sate Koyor. Berbeda dari sate daging biasa, sate koyor menggunakan bagian urat atau lidah sapi yang dimasak berjam-jam hingga mencapai tingkat keempukan sempurna, baru kemudian dibakar. Hasilnya adalah sate dengan tekstur kenyal yang lembut dan rasa gurih yang meresap. Proses pengolahan yang panjang membuat ketersediaannya sering terbatas, menjadikannya buruan khusus pada jam makan siang.
 


4. Apem Beras Bu Wanti

Apem Beras Bu Wanti telah menjadi legenda sejak era 1970-an. Apem buatannya masih menggunakan resep dan metode tradisional. Adonan beras yang difermentasi lalu dipanggang di atas cetakan besi. Hasilnya adalah kue dengan tekstur lembut, sedikit kenyal, beraroma harum kelapa dan rasa manis yang ringan. Dengan harga sekitar Rp3.500 per buah, apem ini bukan sekadar makanan, melainkan pengingat akan kenangan masa kecil yang sederhana.

5. Carabikang Bu Kristi

Sementara itu, warna-warni cerah Carabikang Bu Kristi selalu berhasil menarik mata. Kue tradisional berbentuk bunga merekah ini dimasak menggunakan tungku arang, memberikan aroma bakar yang khas dan kulit luar yang sedikit renyah. Dengan harga sekitar Rp2.000 per buah, carabikang adalah camilan manis yang sempurna untuk dinikmati sambil berjalan-jalan.

Pasar ini berfungsi sebagai ruang sosial dan ekonomi vital bagi masyarakat sekitarnya. Banyak pedagang adalah pelaku usaha mikro yang menggantungkan nafkah di sini, dengan sebagian merupakan generasi kedua atau ketiga yang meneruskan warisan keluarga.

Di tengah tekanan ekonomi dan gempuran bisnis kuliner modern yang serba instan, ketekunan mereka dalam mempertahankan resep, metode, dan harga yang terjangkau adalah bentuk perlawanan sekaligus pelestarian.

Pasar Ngasem adalah cermin dari Yogyakarta itu sendiri: sebuah kota yang merangkul modernitas tanpa melupakan akar tradisinya. Setiap sudutnya, setiap bau masakan, dan setiap senyum pedagangnya bercerita tentang ketahanan, identitas, dan cinta terhadap warisan leluhur.

Bagi siapa pun yang ingin memahami Yogyakarta bukan hanya dari bangunan bersejarahnya, tetapi dari denyut kehidupan dan lidah warganya, Pasar Ngasem adalah pintu masuk yang paling otentik. Di sini, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan, dicicipi, dan diingat.

*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)