Wilayah di Gunungkidul Ini Rawan Kekeringan saat Kemarau

Seorang petani menabur pupuk urea pada tanaman padi yang mengalami kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr

Wilayah di Gunungkidul Ini Rawan Kekeringan saat Kemarau

Silvana Febiari • 25 June 2026 22:59

Gunungkidul: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memetakan potensi kekeringan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan memasuki musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan tren kekeringan di wilayah itu biasanya dimulai dari kawasan selatan karena kontur tanahnya kurang mampu menahan air.

"Karakteristik tanah di sana dominan tanah kapur sehingga sangat mudah kering, artinya tidak mampu menyimpan air di permukaan tanah," kata Purwono, dilansir dari Antara, Kamis, 25 Juni 2026. 
 


Tren tersebut, kata dia, didasarkan pada pengamatan terhadap kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya. Wilayah yang kerap terdampak antara lain Kapanewon Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Saptosari yang didominasi tanah kapur.

Menurut dia, air tanah di wilayah tersebut berada pada kedalaman sekitar 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat kawasan selatan menjadi wilayah yang lebih dahulu menerima bantuan penyaluran air bersih dari BPBD.

"Penyaluran air kami awalnya dari selatan, kemudian nanti makin mundur ke belakang merembet ke arah utara, seperti itu pemetaannya," ujarnya.


Ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.


Ia mengatakan dampak kekeringan juga dapat mengganggu produktivitas pertanian di lahan-lahan sekitar. Namun, Purwono menilai para petani di wilayah tersebut telah memiliki cara mitigasi tersendiri dalam menghadapi kekeringan yang hampir selalu terjadi setiap tahun.

Ia menilai masyarakat sudah bertahun-tahun menyatu dengan alam. Salah satu bentuk mitigasi yang dilakukan petani adalah menanam tanaman yang lebih tahan terhadap minimnya ketersediaan air pada musim kemarau, seperti umbi-umbian dan ketela.

Purwono menambahkan kondisi alam di wilayah tersebut memang lebih cocok untuk tanaman keras seperti ketela. Selain itu, masyarakat di daerah tersebut juga telah menyesuaikan musim panen ketela dengan kondisi cuaca.

Langkah ini dilakukan oleh para petani setempat untuk memaksimalkan proses pengeringan hasil panen mereka. "Sehingga ketika terik matahari baik, kualitas gaplek akan baik," ucap Purwono.

(Silvana Febiari)