Dolar AS Naik Didukung Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Naik Didukung Kenaikan Suku Bunga The Fed

Eko Nordiansyah • 22 September 2026 08:50

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menguat pada Senin, 21 September 2026, ke level tertinggi dalam hampir delapan minggu. Dolar AS melanjutkan kenaikan mingguan yang solid setelah kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve dalam lebih dari tiga tahun.

Sementara itu, yen menghentikan aksi jual tajam pasca-keputusan Bank of Japan untuk memperketat kebijakan moneter, sedangkan euro menjadi sorotan menyusul pembaruan hasil jajak pendapat di Jerman.

Dikutip dari Investing, Selasa, 22 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya naik 0,2 persen menjadi 100,43, level tertinggi sejak 29 Juli.

Dolar AS didorong oleh sikap hawkish The Fed

Kenaikan suku bunga bank sentral menjadi berita utama bulan ini menyusul langkah serupa yang diambil oleh Bank Sentral Eropa (ECB), The Fed, dan Bank of Japan (BoJ); ketiganya menyoroti tekanan harga yang dipicu oleh faktor energi.

Federal Open Market Committee (FOMC) sepakat secara bulat untuk menaikkan suku bunga federal funds menjadi 3,75-4,00 persen dari sebelumnya 3,50%-3,75 persen. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Selain itu, pembaruan Ringkasan Proyeksi Ekonomi The Fed menunjukkan setidaknya 12 anggota FOMC memperkirakan adanya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini.

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed telah melonjak hingga 90 persen menjelang keputusan FOMC, didorong oleh lonjakan harga minyak, data ekonomi AS, dan aksi jual yang terus-menerus di pasar obligasi.

Investor instrumen pendapatan tetap (fixed-income) khususnya menyambut baik kenaikan suku bunga tersebut sebagai bukti The Fed tidak tertinggal dalam mengantisipasi laju inflasi.

Euro hingga yen melemah

Beralih ke mata uang utama lainnya, nilai tukar euro turun 0,2 persen menjadi USD1,1463. Meja perdagangan di Eropa mencermati proyeksi hasil pemungutan suara akhir pekan yang menunjukkan partai sayap kanan jauh, Alternative for Germany (AfD), menempati posisi pertama dalam pemilihan umum di negara bagian wilayah timur laut.

Hasil bersejarah ini memberikan pukulan langsung bagi koalisi konservatif arus utama pimpinan Friedrich Merz, serta memicu munculnya premi risiko politik baru di bursa saham kawasan Eropa.

Yen Jepang melemah pada hari Senin, melanjutkan penurunan tajam sebesar dua persen pada pekan lalu yang sempat menyeret mata uang tersebut ke level terendah dalam beberapa minggu menyusul keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Pasangan mata uang USD/JPY naik 0,3 persen ke level 157,36.

Pasar keuangan Jepang tutup pada hari Senin karena libur nasional selama tiga hari. Rendahnya likuiditas akibat liburan ini membuat meja perdagangan global tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi resmi, mengingat kondisi pasar yang kurang likuid secara historis dapat memperbesar dampak harga dari aksi pembelian mata uang oleh bank sentral.

Menambah kekhawatiran akan intervensi, Nikkei melaporkan pada hari Jumat bahwa BoJ telah melakukan "pemeriksaan kurs" (rate checks) pasar. Langkah ini secara luas dipandang oleh para pedagang sebagai tahap awal operasional sebelum intervensi mata uang secara langsung.

Pada hari Jumat, BoJ menaikkan biaya pinjaman ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, yakni sebesar 1,25 persen. Namun, adanya dua suara yang berbeda pendapat (yang cenderung mendukung kebijakan longgar/dovish) serta penekanan Gubernur Kazuo Ueda, sehingga memaksa otoritas Jepang untuk melontarkan peringatan verbal dan melakukan pemeriksaan kurs demi mempertahankan nilai mata uang tersebut.

(Eko Nordiansyah)