Ring of fire, foto: national geographic
Daftar Wilayah Indonesia yang Masuk Zona Ring of Fire
Putri Purnama Sari • 19 August 2026 16:55
Jakarta: Gempa besar yang terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan tingginya aktivitas gempa di Tanah Air. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
Mengutip laman resmi BMKG, Indonesia berada di antara sejumlah lempeng tektonik aktif yang terus bergerak. Dinamika tersebut terjadi melalui zona subduksi dan kolisi yang menjadi salah satu faktor tingginya aktivitas gempa di Indonesia.
Pacific Ring of Fire merupakan kawasan berbentuk tapal kuda yang mengelilingi Samudra Pasifik. Kawasan ini membentang sekitar 40.000 kilometer dan menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas gempa serta gunung api tertinggi di dunia.
National Geographic mencatat sekitar 90 persen gempa bumi dunia terjadi di sepanjang Pacific Ring of Fire. Kawasan tersebut juga dihuni sekitar 75 persen gunung api aktif di dunia, dengan sekitar 452 gunung api yang tersebar di sepanjang jalurnya.
Mengapa Indonesia Sering Dilanda Gempa?
Aktivitas gempa di Indonesia berkaitan erat dengan pergerakan lempeng tektonik yang berlangsung terus-menerus. Lempeng merupakan bagian besar dari kerak bumi yang bergerak di atas lapisan mantel sehingga dapat saling bertumbukan, menjauh, maupun bergeser satu sama lain.
Ketika pergerakan tersebut membuat tekanan menumpuk, energi dapat dilepaskan secara tiba-tiba. Pelepasan energi inilah yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.
Secara umum, aktivitas tektonik di kawasan Pacific Ring of Fire banyak terjadi pada batas lempeng. Berikut jenis pergerakan yang berkaitan dengan aktivitas tersebut:
-
Batas Konvergen: Terjadi ketika dua lempeng bergerak saling mendekat dan bertumbukan. Pada zona subduksi, lempeng yang lebih berat dapat menunjam ke bawah lempeng lainnya dan membentuk palung laut serta rangkaian gunung api.
-
Batas Divergen: Terjadi ketika dua lempeng bergerak saling menjauh. Pergerakan ini dapat menyebabkan magma naik ke permukaan dan membentuk kerak baru di dasar laut.
-
Batas Transform: Terjadi ketika dua lempeng bergerak saling bergeser secara horizontal. Tekanan yang terkumpul di bagian yang saling mengunci dapat menyebabkan batuan patah atau bergeser dan memicu gempa.
Baca Juga :
Pada batas konvergen, proses subduksi juga dapat menghasilkan magma yang naik melalui kerak bumi. Dalam waktu yang sangat panjang, proses tersebut membentuk rangkaian gunung api yang dikenal sebagai busur vulkanik.
BMKG menjelaskan Indonesia memiliki banyak sumber gempa, baik di zona megathrust maupun sepanjang sesar aktif di daratan. Bahkan, masih terdapat sesar aktif yang belum terpetakan dan teridentifikasi secara detail.
Ancaman gempa juga tidak hanya berasal dari wilayah laut. Sesar aktif yang menerus hingga ke laut berpotensi memicu tsunami apabila pergerakannya menyebabkan perubahan pada dasar laut.
Aktivitas tektonik juga dapat memicu bencana lain, termasuk tsunami dan letusan gunung api. Karena itu, posisi Indonesia di kawasan aktif tersebut membuat pemahaman terhadap sumber gempa menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi.
Daerah Indonesia yang Berada di Ring of Fire
Kawasan Pacific Ring of Fire membentang melewati sejumlah wilayah Indonesia, terutama daerah yang berada dekat dengan pertemuan dan pergerakan lempeng tektonik. Aktivitas tersebut membentuk rangkaian gunung api, pegunungan, palung laut, hingga jalur sesar yang tersebar di berbagai wilayah.
Berikut wilayah Indonesia yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi:
- Sumatera
- Jawa
- Bali dan Nusa Tenggara
- Sulawesi
- Maluku dan Maluku Utara
- Papua
Posisi Indonesia di kawasan Ring of Fire juga membuat Tanah Air memiliki banyak gunung api aktif. Di sisi lain, aktivitas vulkanik tidak hanya menjadi ancaman bencana, tetapi juga berperan dalam membentuk tanah yang subur, pegunungan, kawasan wisata alam, hingga potensi energi panas bumi.
Daftar Gunung Api di Sepanjang Pacific Ring of Fire

Ilustrasi pexels
Secara global, sebagian besar gunung api aktif di kawasan Pacific Ring of Fire berada di sisi barat Samudra Pasifik. Jalurnya membentang dari Semenanjung Kamchatka di Rusia, melewati Jepang dan Asia Tenggara, hingga Selandia Baru.
Sejumlah gunung api yang berada di kawasan tersebut memiliki karakter aktivitas yang berbeda. Beberapa di antaranya menjadi contoh bagaimana pergerakan lempeng dapat membentuk dan memengaruhi aktivitas gunung api.
1. Krakatau, Indonesia
Krakatau menjadi salah satu contoh gunung api yang berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan Indonesia. Letusan besar pada 1883 menghancurkan sebagian besar pulau dan melontarkan gas vulkanik, abu, serta batuan hingga sekitar 80 kilometer ke udara, sementara aktivitas vulkanik berikutnya membentuk Anak Krakatau.
2. Gunung Ruapehu, Selandia Baru
Gunung Ruapehu memiliki ketinggian 2.797 meter dan termasuk salah satu gunung api yang cukup aktif diPacific Ring of Fire. Gunung ini mengalami erupsi kecil secara berkala, sedangkan erupsi besar tercatat memiliki jarak sekitar 50 tahun.
3. Gunung Fuji, Jepang
Gunung Fuji merupakan salah satu gunung api aktif yang terkenal di kawasan Pacific Ring of Fire. Gunung ini terakhir meletus pada 1707 dan berada di wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik yang dikenal sebagai triple junction.
Aktivitas vulkanik serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah lain di sepanjang Pacific Ring of Fire. Beberapa di antaranya adalah Kepulauan Aleut dan Pegunungan Cascade di Amerika Serikat, Sabuk Vulkanik Trans-Meksiko di Meksiko, serta Pegunungan Andes di Amerika Selatan.
Rangkaian tersebut terbentuk akibat interaksi berbagai lempeng tektonik di sepanjang tepian Samudra Pasifik. Karena itu, Pacific Ring of Fire tidak hanya dikenal sebagai kawasan dengan banyak gunung api, tetapi juga sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas gempa bumi tertinggi di dunia.
Ring of Fire Tak Hanya Dipicu Pertemuan Lempeng
Selain batas lempeng, kawasan Pacific Ring of Fire juga memiliki hot spot atau titik panas. Hot spot merupakan wilayah jauh di dalam mantel bumi yang menjadi tempat panas naik menuju permukaan dan dapat menyebabkan batuan di atasnya mencair menjadi magma.
Magma tersebut dapat bergerak melalui retakan kerak bumi dan membentuk gunung api. Namun, hot spot umumnya tidak berkaitan langsung dengan pergerakan atau pertemuan lempeng, sehingga sejumlah ahli geologi tidak memasukkan gunung api yang terbentuk dari hot spot sebagai bagian utama Pacific Ring of Fire.
Salah satu contohnya ialah Gunung Erebus di Antarktika yang berada di atas hot spot Erebus. Gunung yang tertutup lapisan es tersebut memiliki danau lava di puncaknya dan tercatat terus mengalami aktivitas sejak pertama kali ditemukan pada 1841.
Di sisi lain, batas transform juga menjadi sumber aktivitas gempa di kawasan Pacific Ring of Fire. Sesar San Andreas di California, Amerika Serikat, merupakan salah satu contoh sesar aktif yang terbentuk pada batas transform antara Lempeng Amerika Utara dan Lempeng Pasifik.
Baca Juga :
BMKG Catat 2.768 Gempa Susulan di NTT
Sesar tersebut memiliki panjang sekitar 1.287 kilometer dan kedalaman sekitar 16 kilometer. Pergerakannya berkontribusi terhadap gempa San Francisco 1906 yang menghancurkan hampir 500 blok kota, menewaskan sekitar 3.000 orang, dan membuat setengah penduduk kota kehilangan tempat tinggal.
Aktivitas vulkanik juga tidak hanya terjadi di sisi barat Pacific Ring of Fire. Di bagian timur terdapat sejumlah kawasan vulkanik aktif, seperti Kepulauan Aleut, Pegunungan Cascade, Sabuk Vulkanik Trans-Meksiko, dan Pegunungan Andes.
Gunung St. Helens di Washington, Amerika Serikat, merupakan salah satu gunung api aktif di Pegunungan Cascade. Erupsi besar pada 1980 berlangsung selama sekitar sembilan jam dan menyelimuti wilayah di sekitarnya dengan abu vulkanik.
Sementara itu, Popocatépetl di Meksiko termasuk salah satu gunung api paling aktif di kawasan Pacific Ring of Fire. Gunung tersebut berada di dekat wilayah perkotaan Mexico City dan Puebla sehingga aktivitas erupsinya menjadi perhatian karena berpotensi berdampak terhadap masyarakat dalam jumlah besar.
Mengapa Masyarakat Perlu Waspada?
Tingginya aktivitas tektonik membuat gempa menjadi risiko bencana yang perlu diantisipasi. BMKG mengingatkan masyarakat untuk memahami potensi gempa, mengetahui jalur evakuasi, dan mengikuti informasi resmi karena gempa belum dapat diprediksi secara tepat.
BMKG juga terus mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS) serta peringatan dini tsunami. Selain itu, pemetaan sesar aktif diperlukan untuk mendukung mitigasi dan perencanaan tata ruang.
Risiko gempa dan aktivitas gunung api di Indonesia tidak dapat dihilangkan karena kondisi geologisnya. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui pemetaan risiko, sistem peringatan dini, pembangunan yang memperhatikan kondisi geologi, dan kesiapsiagaan masyarakat.
(Angel Rinella)