Harga Emas Dunia Menguat Tipis di Tengah Reli Treasury

Ilustrasi emas batangan. Foto: goldmarket.fr

Harga Emas Dunia Menguat Tipis di Tengah Reli Treasury

Husen Miftahudin • 2 October 2026 08:24

Chicago: Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat. Penguatan didukung penurunan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS), meski kenaikan tertahan oleh penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam hampir satu setengah tahun serta lonjakan harga minyak.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 2 Oktober 2026, harga emas spot naik 0,5 persen menjadi USD4.177,25 per ounce. Sementara itu, harga emas berjangka menguat tipis 0,1 persen menjadi USD4.207,55 per ounce.
 
Pasar obligasi AS menguat meski data manufaktur menunjukkan peningkatan tekanan harga. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks harga yang mengukur perubahan harga bahan baku dan input yang dibayarkan produsen naik menjadi 77,9 pada September dari 71,1 pada Agustus. Angka tersebut mendekati level 78,3 yang tercatat pada Maret saat konflik AS-Iran dimulai.
 
Di sisi lain, indeks aktivitas manufaktur AS versi ISM menunjukkan sektor tersebut tetap berekspansi pada September. Ekspansi tercatat selama sembilan bulan berturut-turut.
 
Pasar obligasi Treasury AS kemudian berbalik menguat pada Kamis setelah sebelumnya mengalami aksi jual tajam yang mendorong imbal hasil instrumen jangka panjang ke level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun.
 
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun 6,5 basis poin menjadi 5,246 persen. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun turun 2,3 basis poin menjadi 5,616 persen.
 



(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar menanti data tenaga kerja AS

 
Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan nonpertanian AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati untuk melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
 
Sejumlah data yang dirilis pada Rabu menunjukkan ekonomi AS masih tumbuh, pasar tenaga kerja tetap kuat, dan inflasi mulai mereda. Perkembangan tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan perubahan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.
 
Adapun penguatan emas pada Kamis terjadi setelah logam mulia tersebut mencatat penurunan bulanan terbesar sejak Juni. Harga emas turun lebih dari enam persen sepanjang September. Penurunan terjadi setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan memberikan sinyal kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
 
Pada periode yang sama, imbal hasil obligasi global juga meningkat di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan utang pemerintah dan defisit fiskal. Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan pendapatan bunga.
 
Dari pasar komoditas, harga minyak kembali naik pada Kamis. Pergerakan tersebut turut membatasi penguatan harga emas karena berpotensi menambah tekanan inflasi. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 4,3 persen menjadi USD102,21 per barel.
 
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Wall Street Journal melaporkan AS mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga dan tambahan kapal Korps Marinir ke Timur Tengah. Mengutip pejabat AS, langkah tersebut berpotensi menambah 9.000 hingga 10 ribu personel ke kawasan itu hingga akhir November.

(Husen Miftahudin)