Harga Emas Dunia Anjlok 6,5% Sepanjang September, Ini Pemicunya

Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com

Harga Emas Dunia Anjlok 6,5% Sepanjang September, Ini Pemicunya

Husen Miftahudin • 1 October 2026 09:05

Chicago: Harga emas dunia mengakhiri tren penguatan selama dua bulan dengan penurunan 6,5 persen sepanjang September 2026. Pergerakan emas tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta lonjakan harga minyak. Pun demikian pada perdagangan Rabu waktu setempat.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 1 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,6 persen menjadi USD4.158,70 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka naik 0,2 persen menjadi USD4.189,10 per ons. Kedua kontrak tersebut mencatat penurunan 6,5 persen sepanjang September.
 
Pelaku pasar emas mendapat sentimen dari rilis sejumlah data ekonomi AS yang mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
 
Data inflasi menjadi perhatian utama. Berdasarkan laporan Biro Analisis Ekonomi AS (BEA), indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) utama naik 0,3 persen secara bulanan pada Agustus dan 3,4 persen secara tahunan.
 
Pada Juli, PCE tercatat tumbuh 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan Agustus juga berada di bawah perkiraan pasar sebesar 0,4 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan.
 
Sementara itu, PCE inti yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi meningkat 0,2 persen secara bulanan dan tiga persen secara tahunan pada Agustus.
 
Angka tersebut dibandingkan dengan pertumbuhan 0,1 persen secara bulanan dan tiga persen secara tahunan pada Juli. PCE inti juga berada di bawah konsensus pasar sebesar 0,3 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan.
 

 

Pertumbuhan ekonomi AS direvisi naik

 
BEA juga merevisi naik perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS pada kuartal II menjadi 2,2 persen dari sebelumnya 1,5 persen. Revisi tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom yang berada di level 1,5 persen.
 
Sementara itu, laporan ketenagakerjaan swasta ADP menunjukkan perusahaan swasta menambah 90 ribu pekerjaan pada September. Angka tersebut menjadi peningkatan pertama sejak Mei.
 
Sebagai perbandingan, perusahaan swasta hanya menambah 36 ribu pekerjaan pada Agustus. Rangkaian data ekonomi tersebut dirilis ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
 
Kenaikan imbal hasil turut meningkatkan biaya pinjaman dan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak, kebutuhan pembiayaan perusahaan untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sinyal kebijakan The Fed, serta peningkatan utang fiskal AS. Kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi harga emas sepanjang September.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Peluang kenaikan suku bunga Oktober menurun

 
Pada awal September, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberikan sinyal kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan. Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober sempat meningkat setelah keputusan tersebut.
 
Namun, sentimen berubah setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kembali. Data ekonomi yang dirilis pada Rabu semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
 
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan depan turun menjadi sekitar 37 persen dari hampir 51 persen pada hari sebelumnya.
 
Perubahan ekspektasi tersebut memberikan ruang bagi harga emas untuk mendapat dukungan. Namun, tekanan dari penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS masih membayangi pergerakan logam mulia.

(Husen Miftahudin)