Harga Emas Masih Tertekan, Ini Penyebabnya

Emas batangan. Foto: Investopedia.

Harga Emas Masih Tertekan, Ini Penyebabnya

Husen Miftahudin • 30 September 2026 11:00

Jakarta: Harga emas dunia atau XAU/USD masih bergerak dalam tekanan setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Harga emas sempat turun ke sekitar USD4.110 per troy ons, level terendah dalam lebih dari tujuh minggu.

Penurunan tersebut dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil Treasury, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Meski demikian, pergerakan teknikal jangka pendek mulai menunjukkan peluang pemulihan harga.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures, pergerakan harga emas pada timeframe H1 menunjukkan penolakan (rejection) di area resistance sebelumnya. Setelah mengalami tekanan jual yang cukup kuat, XAUUSD mulai membentuk Swing Low yang berpotensi menjadi area support baru. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang terjadinya rebound dalam jangka pendek.
 
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan kemampuan XAUUSD bertahan di atas area Swing Low menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan selanjutnya. Selama harga mampu mempertahankan area support tersebut, XAUUSD berpeluang bergerak menuju resistance terdekat di kisaran USD4.202-USD4.215.
 
"Pergerakan menuju area USD4.202-USD4.215 akan menjadi salah satu titik yang dicermati dalam menentukan arah harga berikutnya," ungkap Geraldo dalam analisis harian, Rabu, 30 September 2026.

Jika momentum positif bertahan hingga mendekati area tersebut, lanjut dia, peluang kelanjutan rebound masih terbuka. Sebaliknya, tekanan jual di sekitar resistance dapat kembali mendorong harga mengalami koreksi.

"Dengan demikian, level support dari Swing Low menjadi area penting yang perlu diperhatikan dalam analisis teknikal jangka pendek," tukas Geraldo.
 

 

Penyebab harga emas tertekan


Dari sisi fundamental, penguatan harga emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Reuters melaporkan harga emas sempat merosot sekitar tiga persen pada Senin setelah kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.

Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menembus lima persen, level tertinggi sejak Juni 2007. Kenaikan imbal hasil Treasury menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas. Emas tidak memberikan imbal hasil sehingga kenaikan yield obligasi meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia.

Penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan karena membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Tekanan terhadap emas mulai mendapat penyeimbang setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan pandangan berbeda mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga berikutnya.

Reuters melaporkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober sempat turun dari sekitar 70 persen menjadi sekitar 52 persen setelah pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams. Pernyataan Williams mengisyaratkan pendekatan yang lebih hati-hati dalam menentukan langkah kebijakan moneter selanjutnya.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Data PCE hingga geopolitik masih jadi faktor utama


Pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, terutama indikator inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan laporan ketenagakerjaan. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Menurut Geraldo, data ekonomi yang lebih kuat berpotensi menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan pemulihan.

Selain faktor ekonomi dan moneter, tambah dia, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar emas. Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian harga energi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

"Namun, pergerakan emas tetap perlu dilihat bersama dengan perkembangan imbal hasil Treasury dan dolar AS karena kedua faktor tersebut dapat memengaruhi daya tarik logam mulia," papar Geraldo.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures, XAU/USD memiliki peluang mengalami rebound dalam jangka pendek selama mampu bertahan di atas area Swing Low pada timeframe H1. Jika area tersebut mampu dipertahankan, harga emas berpeluang menguji resistance USD4.202–USD4.215.

"Namun, tekanan dari tingginya imbal hasil Treasury, penguatan dolar AS, dan ekspektasi kebijakan The Fed masih menjadi faktor yang dapat membatasi ruang kenaikan," tutup Geraldo.

(Husen Miftahudin)