Harga Emas Dunia Naik 1,6% ke USD4.182/Troy Ons

Emas batangan. Foto: dok MIND ID.

Harga Emas Dunia Naik 1,6% ke USD4.182/Troy Ons

Husen Miftahudin • 30 September 2026 08:04

Chicago: Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa waktu setempat, membalikkan penurunan pada sesi sebelumnya. Kenaikan harga emas terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan harga minyak, serta meredanya tekanan di pasar obligasi pemerintah AS.
 
Mengutip Investing.com, Rabu, 30 September 2026, harga emas spot naik 1,6 persen menjadi USD4.182,45 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka meningkat 1,1 persen menjadi USD4.182,45 per troy ons.
 
Sementara itu, pasar obligasi AS mengalami perdagangan yang bergejolak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS, khususnya tenor jangka panjang, sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade pada awal perdagangan.
 
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2002. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juni 2002.
 
Lonjakan imbal hasil tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak, kekhawatiran terhadap peningkatan utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), kebijakan Federal Reserve yang semakin ketat, hingga peningkatan utang fiskal AS.
 

 

Pasar cermati peluang kenaikan suku bunga

 
Pelaku pasar juga meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober dan Desember setelah sejumlah indikator menunjukkan ekonomi AS masih bertahan. Data S&P Global pada pekan sebelumnya menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021.
 
Kenaikan suku bunga dapat membantu meredam inflasi. Namun, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
 
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data indikator inflasi pilihan Federal Reserve yang akan dirilis pada Rabu. Investor juga menunggu laporan ketenagakerjaan nonpertanian yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve.
 
Sementara itu, Ringkasan Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (Job Openings and Labor Turnover Survey/JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS mencapai 7,079 juta pada Agustus. Jumlah tersebut turun dari angka Juli yang direvisi menjadi 7,335 juta dan berada di bawah konsensus pasar sebesar 7,230 juta.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Kepercayaan konsumen AS melemah

 
Indeks kepercayaan konsumen yang dirilis Conference Board juga turun menjadi 81,9 pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan 89,2 sekaligus menjadi level terendah sejak Mei 2014.
 
Kepala Ekonom LPL Financial Jeffrey Roach mengatakan masyarakat AS menilai ketersediaan lapangan kerja semakin terbatas dan menunda pembelian rumah, kendaraan, serta barang bernilai besar lainnya.
 
Menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bagi belanja selama musim liburan. Namun, Roach menilai survei tersebut belum dapat dianggap sebagai data pasti sehingga belum tentu mengubah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve secara signifikan.
 
Tekanan di pasar obligasi AS juga mulai mereda menjelang akhir perdagangan. Kondisi tersebut terjadi setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengatakan Federal Reserve tidak perlu terburu-buru menentukan langkah kebijakan berikutnya.
 
Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat melonjak tajam pada awal perdagangan.

(Husen Miftahudin)