Emas batangan. Foto: Xinhua.
Harga Emas Dunia Anjlok Hampir 4%, Digilas Kedigdayaan Dolar AS
Husen Miftahudin • 29 September 2026 08:35
Chicago: Harga emas dunia merosot hampir empat persen pada perdagangan Senin waktu setempat. Penurunan dipengaruhi penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta tingginya harga minyak.
Mengutip Investing.com, Selasa, 29 September 2026, harga emas spot turun 3,9 persen menjadi USD4.116,60 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 4,1 persen menjadi USD4.145,76 per ons.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berlanjut pada perdagangan Senin. Kondisi tersebut terjadi seiring kenaikan biaya pinjaman dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 5,4 basis poin menjadi 5,241 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2007.
Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga meningkat 4,9 basis poin menjadi 5,551 persen. Pada pekan sebelumnya, imbal hasil tenor tersebut telah mencapai level tertinggi sejak Juni 2004.
Kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan terhadap emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed
Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun pada hampir dua pekan lalu. Bank sentral AS juga memberikan sinyal mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan.
Kenaikan harga minyak dan data ekonomi yang menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap tumbuh turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve Oktober mencapai sekitar 70 persen. Angka tersebut naik dari 64 persen sehari sebelumnya dan lebih dari 57 persen pada pekan sebelumnya.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil. Kondisi tersebut dapat menekan permintaan terhadap emas.
Penguatan dolar AS juga menjadi faktor yang membebani emas karena membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Pasar menanti data inflasi dan tenaga kerja
Pelaku pasar logam mulia mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian bank sentral AS, dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Selain itu, Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) untuk Agustus akan dirilis pada Selasa. Pasar juga menanti laporan penggajian nonpertanian AS untuk September yang dijadwalkan pada Jumat.
Kenaikan harga minyak turut menjadi perhatian pasar dan memberikan tekanan terhadap harga emas. Harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan telah menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan.
Trump juga menyatakan proposal Iran berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran kemudian menegaskan tidak akan melonggarkan persyaratan terkait pembukaan kembali jalur maritim tersebut. Perkembangan itu turut meredam harapan adanya terobosan diplomatik dalam waktu dekat.
Namun, laporan Al Jazeera, CNN, dan Axios pada Senin menyebut Trump siap mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran serta pelepasan aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas kemajuan konkret dalam program nuklir negara tersebut.
Kabar tersebut membuat kenaikan harga minyak berkurang dan harga sempat bergerak turun. Harga minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan global, terakhir naik 1,8 persen menjadi USD106,15 per barel.