Harga Emas Turun di Bawah USD4.300, 2 Faktor Jadi Pemicunya

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Turun di Bawah USD4.300, 2 Faktor Jadi Pemicunya

Eko Nordiansyah • 28 September 2026 08:55

Chicago: Harga emas turun lebih dari satu persen pada Senin, 28 September 2026, melanjutkan tren penurunan mingguan, karena harga minyak yang tinggi dan data aktivitas AS yang lebih kuat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Dikutip dari Investing, XAU/USD turun 1,1 persen menjadi USD4.236,33 per ons, sementara Emas Berjangka (Gold Futures) turun 1,2 persen menjadi USD4.270,50. Indeks Dolar AS turun 0,31 persen ke level 100,97.

Kebuntuan di Selat Hormuz dan kebijakan The Fed

Harga minyak naik setelah Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, sehingga mempertahankan ketidakpastian seputar jalur utama pasokan energi global tersebut. Presiden AS Donald Trump telah menolak usulan Iran untuk membuka kembali jalur air tersebut dalam tujuh hari, meskipun ia mengatakan berharap negosiasi dengan Teheran akan berlanjut minggu ini.

Konflik AS-Iran kini memasuki bulan kedelapan, sementara harga minyak mentah Brent telah naik sekitar 70 persen tahun ini. Harga energi yang terus tinggi menambah kekhawatiran inflasi dan menjadi faktor penting bagi pasar dalam menilai langkah The Fed selanjutnya.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, mengatakan bahwa imbal hasil (yield) obligasi Treasury jangka panjang terdorong naik akibat ekspektasi pertumbuhan yang lebih kuat, kekhawatiran mengenai utang pemerintah, dan ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan.

Para pejabat The Fed secara bulat memutuskan pada pertengahan September untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dan beberapa pembuat kebijakan sejak saat itu mengisyaratkan bahwa kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan. Pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 65 persen untuk kenaikan suku bunga lagi pada bulan Oktober.

Tekanan terhadap emas juga datang dari pasar obligasi. Selisih imbal hasil (spread) antara obligasi Treasury tenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit hingga hanya 17 basis poin pada pekan lalu, yang merupakan celah terkecil sejak awal tahun 2025.

Emas tertekan kuatnya permintaan ETF

Emas diperdagangkan dalam kisaran yang relatif sempit antara USD4.230 hingga USD4.510 bulan ini karena investor berulang kali menilai kembali prospek kebijakan The Fed. Harga masih jauh di bawah rekor tertinggi hampir USD5.600 yang dicapai pada bulan Januari.

ANZ menyatakan bahwa kondisi makroekonomi masih menantang bagi emas, di mana imbal hasil yang lebih tinggi dan dolar yang kuat menekan harga. Namun, bank tersebut mencatat bahwa permintaan exchange-traded fund (ETF) tetap kuat, dengan kepemilikan ETF emas meningkat sekitar 50 ton sepanjang bulan ini. 

Sentimen konsumen AS juga melemah pada bulan September, turun ke level terendah dalam empat bulan seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai harga dan kondisi ekonomi.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak The Fed untuk tetap terbuka terhadap berbagai opsi terkait suku bunga. Ia berpendapat bahwa peningkatan produktivitas yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) dan deregulasi dapat membantu meredam inflasi.

Selanjutnya, pasar akan mencermati data inflasi PCE bulan Agustus yang akan dirilis pada hari Rabu serta laporan ketenagakerjaan bulan September pada hari Jumat; indikator inflasi pilihan The Fed dan data pertumbuhan lapangan kerja tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kenaikan suku bunga lebih lanjut.

(Eko Nordiansyah)