Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka Naik 33 Poin ke Rp17.866/USD
Eko Nordiansyah • 7 October 2026 09:13
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan. Rupiah naik tipis saat dolar AS mengalami tekanan akibat faktor domestiknya.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 7 Oktober 2026, rupih berada di level Rp17.866 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 33 poin atau setara 0,18 persen dari Rp17.899 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.905 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin.
Baca Juga :
Dolar AS Melemah, Euro Bangkit
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Rupiah fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.890-Rp17.940 per USD.Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Konflik yang masih panas ini diperkirakan akan mempengaruhi harga minyak dunia.
Selain itu, pasar menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk periode September pada Rabu serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis.
Di sisi lain, Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,2 persen, proyeksi tersebut direvisi ke atas sebesar 0,5 poin persentase. Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi.
Ibrahim menjelaskan, lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen bulan Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.
Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti aktivitas ekonomi domestik tampak melemah setelahnya, yang ditandai dengan turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus dan melesunya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli. Di sisi lain, pelebaran defisit memicu kekhawatiran pasar atas tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings).
Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I-2026.