Ilustrasi bitcoin. Foto: Freepik.
Bitcoin Menguat usai The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps
Husen Miftahudin • 18 September 2026 11:28
Jakarta: Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Keputusan tersebut diambil secara bulat dan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023. Namun, kenaikan suku bunga tersebut tidak langsung menekan harga Bitcoin (BTC).
Setelah keputusan tersebut, harga bitcoin justru bergerak naik dari sekitar USD75.400 menjelang pengumuman menjadi sekitar USD76 ribu setelah keputusan The Fed dirilis pada Kamis, 17 September 2026.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai respons bitcoin tersebut menunjukkan hubungan antara kebijakan makroekonomi dan harga aset kripto tidak selalu berlangsung secara langsung.
"Kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penggerak pasar kripto. Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto," jelas Aloysia dalam keterangan tertulis, Jumat, 18 September 2026.
"Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan," jelas Aloysia menambahkan.
Menjelang keputusan FOMC, pasar telah memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga. Ketika keputusan yang diambil sesuai dengan ekspektasi, sebagian dampaknya dapat tercermin pada pergerakan harga sebelum pengumuman.
Dengan demikian, keputusan yang telah banyak diantisipasi pasar tidak selalu menghasilkan tekanan tambahan terhadap harga aset.
Proyeksi kebijakan The Fed
Meski harga bitcoin menguat setelah pengumuman FOMC, arah kebijakan The Fed tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026.
Bank sentral AS juga menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,6 persen. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dinaikkan menjadi 2,3 persen.
Fokus The Fed masih tertuju pada pengendalian inflasi. Namun, arah kebijakan selanjutnya belum ditentukan dan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Karena itu, menurut Aloysia, kebijakan The Fed perlu dilihat sebagai bagian dari kondisi makroekonomi yang lebih luas, bersama likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan perkembangan industri kripto.

(Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian. Foto: dok Indodax)
Investor mesti cermati risiko bitcoin
Aloysia mengatakan penguatan bitcoin setelah keputusan FOMC perlu dilihat secara proporsional dan tidak hanya berdasarkan pergerakan harga dalam jangka pendek.
"Penguatan bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global," tambah dia.
Selain faktor makroekonomi, dinamika khusus industri kripto juga menjadi perhatian. Beberapa faktor tersebut meliputi arus ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, sentimen pasar, dan posisi leverage.
Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat membuat pergerakan aset kripto memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aset berisiko lainnya.
Indodax juga mengingatkan investor untuk tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan respons harga sesaat setelah pengumuman kebijakan moneter. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko, mengelola posisi secara disiplin, dan melakukan riset mandiri sebelum bertransaksi.