Ilustrasi, bitcoin. Foto: theguardian.com
Bitcoin Melemah di Tengah Lonjakan Minyak hingga Inflasi AS
Husen Miftahudin • 11 September 2026 10:28
New York: Harga bitcoin melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, seiring memburuknya sentimen terhadap aset berisiko akibat lonjakan harga minyak dan data inflasi produsen Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip Investing.com, Jumat, 11 September 2026, bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, turun 1,2 persen menjadi USD77.189,80.
Adapun, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, PPI utama meningkat 0,4 persen secara bulanan dan 5,4 persen secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan konsensus masing-masing 0,4 persen dan 5,3 persen. Data PPI utama untuk Juli juga direvisi menjadi kenaikan 0,1 persen secara bulanan dan 4,8 persen secara tahunan.
Sementara itu, PPI inti meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 4,6 persen secara tahunan. Angka bulanan tersebut berada di bawah perkiraan konsensus 0,3 persen, sedangkan angka tahunan sesuai dengan perkiraan 4,6 persen.
Laporan PPI dirilis sehari sebelum data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dan beberapa hari setelah laporan nonfarm payrolls Agustus. Data tersebut menjadi perhatian pasar karena menunjukkan tekanan harga masih tinggi di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat.
Peluang kenaikan suku bunga Fed meningkat
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve turut berubah setelah data PPI dirilis. Berdasarkan alat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 16 September 2026 meningkat menjadi hampir 72 persen.
Sebelumnya, peluang tersebut berada di sekitar 64 persen. Kenaikan suku bunga dan lingkungan imbal hasil yang lebih tinggi cenderung memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Pasar saham AS melemah setelah data PPI dirilis. Pada saat yang sama, pasar obligasi pemerintah AS mengalami tekanan jual sehingga imbal hasil meningkat.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak 13,1 basis poin menjadi 4,968 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi dua tahun yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga naik 16,1 basis poin menjadi 4,588 persen.
Pasar obligasi sebelumnya juga mengalami tekanan setelah pembaruan program pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS tidak memenuhi ekspektasi sebagian investor.
Di sisi lain, tekanan terhadap ekspektasi inflasi semakin meningkat setelah harga minyak kembali menguat pada Kamis. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 21 Mei.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kembali meningkatnya aktivitas militer antara AS dan Iran setelah kebuntuan selama beberapa pekan terkait kendali atas Selat Hormuz.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Pergerakan aset kripto
Pelemahan juga terjadi pada sejumlah aset kripto utama lainnya. Berikut daftarnya:
- Harga Ether turun tipis menjadi USD2.460,33. XRP melemah 3,1 persen.
- BNB turun 1,5 persen.
- Cardano turun 1,7 persen.
- Solana turun 2,2 persen.
- Dogecoin turun 2,8 persen.
- Token $TRUMP melemah 4,5 persen.