Emas batangan. Foto: melbournemint.com.au
Harga Emas Dunia Bakal Sentuh USD5.100 di Minggu Depan, Ini Daya Gedornya!
Husen Miftahudin • 20 February 2026 11:15
Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan pada pekan terakhir Februari, meskipun saat ini pergerakannya memasuki fase konsolidasi setelah reli signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, emas tetap mempertahankan bias bullish dalam jangka menengah, didukung oleh faktor teknikal dan fundamental yang masih kondusif bagi penguatan logam mulia tersebut.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menjelaskan secara teknikal tren emas pada timeframe H4 masih menunjukkan kecenderungan bullish. Namun, pasar saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi, yang mencerminkan kondisi keseimbangan sementara antara tekanan beli dan jual setelah kenaikan harga yang sangat tajam sebelumnya.
"Dalam fase ini, pelaku pasar cenderung menunggu katalis baru, terutama dari data ekonomi utama Amerika Serikat, untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya," ungkap Andy dalam analisis harian, Jumat, 20 Februari 2026.
Menurut Andy, apabila tekanan bullish tetap dominan dan harga mampu mempertahankan momentum penguatannya, maka XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance di sekitar level USD5.100 pada pekan depan.
"Level tersebut menjadi target teknikal yang realistis apabila sentimen positif terus berlanjut, terutama jika dolar AS melemah dan permintaan safe haven tetap tinggi," tegas dia.
| Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat, Sentuh Level USD5.000 Lagi |
Didorong ketidakpastian global
Dari sisi fundamental, emas masih mendapat dukungan kuat sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global membuat investor tetap mempertahankan eksposur pada emas sebagai instrumen perlindungan nilai.
Selain itu, ekspektasi Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar juga menjadi faktor penting yang menopang harga emas.
Harapan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS memberikan tekanan terhadap dolar AS, yang secara historis memiliki korelasi negatif dengan emas. Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global karena harganya relatif lebih murah dalam denominasi mata uang lain.
"Kondisi ini mendorong permintaan tambahan dan memperkuat tren bullish yang telah terbentuk," terang Andy.
Permintaan dari bank sentral global dan investor institusi juga masih menunjukkan tren positif. Akumulasi emas oleh bank sentral menjadi indikasi kuat logam mulia ini tetap dipandang sebagai aset strategis dalam menjaga stabilitas cadangan devisa. Hal ini membantu menjaga struktur bullish jangka menengah, meskipun sesekali terjadi koreksi teknikal.
Meski demikian, Andy juga mengingatkan adanya skenario alternatif yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar. Jika terjadi pembalikan arah (reversal) dan harga menembus level kunci di USD4.630, maka emas berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut dengan target penurunan menuju area USD4.415.
"Penembusan level support tersebut dapat memicu aksi jual tambahan, terutama dari trader jangka pendek yang memanfaatkan momentum teknikal," papar Andy.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Emas berpotensi sentuh USD5.100
Selain faktor teknikal, data ekonomi AS seperti inflasi (CPI) dan laporan ketenagakerjaan Non Farm Payrolls (NFP) akan menjadi pemicu utama volatilitas dalam jangka pendek.
Data yang lebih kuat dari ekspektasi dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas, sementara data yang lebih lemah akan semakin memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan mendukung kenaikan emas.
Secara keseluruhan, prospek emas pekan depan masih cenderung positif dengan potensi kenaikan menuju level USD5.100, selama harga mampu bertahan di atas level support kunci.
"Namun, fase konsolidasi yang sedang berlangsung menunjukkan pasar masih sensitif terhadap perubahan sentimen, sehingga pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi dan dinamika global yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas," ucap Andy mengingatkan.