Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.
Rupiah Ditutup Turun 0,17% ke Level Rp17.424 Sore Ini
Husen Miftahudin • 5 May 2026 16:19
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 5 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.424 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 30 poin atau setara 0,17 persen dari posisi Rp17.394 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 40 poin, sebelumnya sempat melemah 45 poin di level Rp17.434 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp17.420 per USD. Rupiah melemah sebanyak 57 poin atau setara 0,33 persen dari Rp17.363 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.425 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 57 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.368 per USD.
| Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,61%, Menkeu Tegaskan Indonesia Jauh dari Resesi |
Sentimen pasar rapuh di tengah serangan baru di Teluk
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang tetap rapuh setelah pertukaran militer yang kembali terjadi pada Senin, ketika pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk karena kedua pihak berupaya untuk menegaskan kendali atas jalur air strategis tersebut.
Kenaikan ketegangan tersebut secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan. Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut.
"Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah," papar Ibrahim.
Para pedagang mempertimbangkan inisiatif yang baru diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, "Proyek Kebebasan," yang bertujuan untuk membantu kapal-kapal yang terdampar di Teluk. Operasi ini berupaya untuk memandu kapal-kapal komersial melalui rute yang lebih aman dan memulihkan sebagian arus melalui Selat Hormuz.
Militer AS mengatakan telah mulai mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut di bawah inisiatif ini, dengan pasukan Amerika secara aktif berupaya untuk membangun kembali jalur pelayaran komersial.
Menurut Ibrahim, para analis mencatat meskipun "Proyek Kebebasan" dapat meringankan beberapa hambatan logistik, proyek ini tidak banyak menyelesaikan konflik geopolitik yang mendasar, sehingga pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan militer lebih lanjut.
Sementara itu, guncangan energi yang terjadi menambah tekanan pada bank sentral, khususnya Federal Reserve (Fed), untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau bahkan memperketat kebijakan jika tekanan inflasi meningkat.
"Hal ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, sehingga menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil," papar dia.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026. Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.
Kinerja konsumsi rumah tangga pada periode ini utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idulfitri)
Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen juga turut mendorong konsumsi masyarakat.
Kemudian, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh hingga 13,14 persen (yoy) pada kuartal I-2026, diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan darat, ASDP, angkutan udara, dan angkutan laut.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.420 per USD hingga Rp17.460 per USD," jelas Ibrahim.