Guruh Soekarnoputra Tempuh Jalur Seni Sejak Dini: Dari Cikini hingga Guruh Gipsy

Guruh Soekarnoputra bermain musik. Foto: Istimewa

Guruh Soekarnoputra Tempuh Jalur Seni Sejak Dini: Dari Cikini hingga Guruh Gipsy

Muhamad Marup • 26 September 2026 14:58

Jakarta: Kabar duka menyelimuti panggung seni dan politik tanah air. Anak Presiden Pertama Republik Indonesia, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau yang dikenal sebagai Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, di usia 73 tahun.

Sebelum menggeluti bidang politik mengikuti jejak sang ayah, Guruh terlebih dulu menceburkan diri ke dunia seni, mulai dari tari, teater, hingga musik. Berawal sejak dini dari Sekolah Rakyat (SR) di Cikini, Guruh lalu membentuk beberapa kelompok kesenian, salah satunya Guruh Gipsy.

Melansir Arsip Nasional RI, berikut perjalanan karier seni Guruh Soekarnoputra.

Kisah Awal Berkesenian

Guruh lahir di Istana Merdeka, Jakarta, pada 13 Januari 1953. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat dan minat yang besar pada dunia seni dan sastra.

Guruh kecil sudah belajar tari tradisional Jawa, Sunda, Bali, Minang, dan beberapa tarian daerah lainnya selepas usia balita. Saat duduk di Sekolah Dasar, ia beberapa kali tampil di Televisi Republik Indonesia (TVRI) bersama kelompok musik yang dibentuknya dan mengiringi piano teman-temannya dari Sekolah Rakyat (SR) Perguruan Cikini.

Sejak usia muda, Guruh telah dikenal oleh pemirsa TVRI. Menginjak usia remaja, ia mulai mengarang lagu dan pada 1965 membentuk band The Beat-G.

Pendidikan formal Guruh sejak bangku Sekolah Rakyat (SR) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ditempuh di Perguruan Cikini. Di balik bakat seninya, ia merupakan pelajar cerdas dengan nilai yang mendekati sempurna.

Ia tamat dari SR Perguruan Cikini pada 1965 dengan perolehan nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Berhitung, Pengetahuan Umum, dan Menulis yang semuanya mendekati angka 100. Atas pencapaian tersebut, ia mendapat predikat Bintang Pelajar.

Kehidupan masa remaja Guruh diisi dengan memperdalam kemahirannya dalam seni tari dan musik daerah atau tradisional. Pada periode 1969-1972, ia berguru kepada beberapa seniman terkemuka, seperti I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Anak Agung Ayu Oka, Ni Ketut Reneng, dan I Nyoman Kakul untuk tari Bali, I Gusti Kompyang Raka, Anak Agung Gde Ngurah Mandera, dan I Made Gerindem untuk gamelan Bali, Serimpi-Bedoyo bersama Raden Ayu Laksminto Rukmi, Mochtar Embut, dan Ismail Marzuki. Perjalanan kesenian Guruh terus berlanjut dengan pembentukan band The Flower Poetman pada 1970. Ia juga berkumpul bersama para seniman di Taman Ismail Marzuki dan bergabung menjadi anggota kelompok gamelan Bali.

Ia juga mengikuti latihan teater di Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer, serta mengorganisasi kelompok angklung dan gamelan Jawa di lingkungan Perguruan Cikini.

Studi Luar Negeri dan Guruh Gipsy


Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra bin Soekarno. Foto: Medcom.id.

Pengekspresian jiwa seni Guruh tidak hanya terbatas ketika ia berada di tanah air. Dalam perjalanan studinya, ia juga pernah menempuh pendidikan selama tiga tahun di jurusan Arkeologi di Universiteit van Amsterdam, Belanda.

Saat kuliah di Universiteit van Amsterdam, Belanda, Guruh menjadi anggota grup gamelan Jawa dan Bali di Tropen Museum, Amsterdam, pada 1973. Sambil kuliah, ia juga mengajar gamelan Bali di Tropen Museum, Amsterdam, dan mengajar tari Bali dalam wadah CREA (Het Cultureel Studentencentrum van Universiteit van Amsterdam), sebuah organisasi mahasiswa di bidang sosial-budaya Universiteit van Amsterdam, Belanda, pada 1974.

Pada 1975, sekembalinya dari Belanda, Guruh membuat kegiatan eksperimen musik yang memadukan gamelan Bali dan musik Barat. Eksperimen ini melahirkan album musik Guruh Gipsy.

Dalam buku Musisiku, disebutkan bahwa album Guruh Gipsy yang diluncurkan pada 1976 merupakan tonggak musik pop Indonesia. Proyek Guruh Gipsy didukung oleh musisi-musisi terkenal Indonesia, seperti Guruh (piano, gamelan), Keenan Nasution (drum, vokal), Chrisye (vokal, bass), Roni Harahap (piano, keyboard), Oding Nasution (gitar), dan Abadi Soesman (synthesizer).

Oleh banyak pihak, biaya produksi eksperimen ini dianggap menghabiskan biaya besar dan memiliki nilai terobosan yang ambisius. Di lain pihak, album Guruh Gipsy memiliki pesona tersendiri karena tidak hanya melakukan eksplorasi bunyi, tetapi juga mempunyai tema penulisan lirik yang memasuki wilayah kritik sosial.

Debut pertama di bidang musik komersial ditandai dengan keluarnya karya eksperimen berupa album Guruh Gipsy yang menuai banyak catatan dari para penikmat musik. Album yang dikerjakan dengan serius dan cermat ini hanya dicetak sebanyak 5.000 keping kaset dan melalui masa penggarapan yang sangat panjang.

Album Guruh Gipsy yang sampul depannya menyertakan tagline "kesempatan dalam kepekatan" memulai tahap awal proses rekaman pada Juli 1975 hingga Februari 1976. Album ini menggarap sekitar empat lagu, antara lain Geger Gelgel dan Barong Gundah.

Tahap selanjutnya berlangsung selama sebulan penuh, mulai dari Mei hingga Juni 1976, dan menghasilkan empat lagu, yaitu Smaradhana, Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka, dan Chopin Larung. Proses mixing berlangsung sekitar lima bulan, mulai dari Juli hingga November 1976, dan menjelang akhir 1976 album Guruh Gipsy dirilis.

Dari ukuran industri album musik, Guruh Gipsy memang tidak memenuhi target penjualan. Namun, dalam pencapaian artistik, album Guruh Gipsy dapat dianggap sebagai inspirasi bagi karya musik generasi setelahnya.

Bersamaan dengan dirilisnya album Guruh Gipsy, lagu ciptaan Guruh berjudul Renjana, yang berarti rasa hati yang kuat atau rindu, memenangkan Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia. Lagu ini sekaligus mewakili Indonesia dalam Festival Internasional World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.

Secara berturut-turut, beberapa karya musik Guruh mencetak hits, antara lain Galih dan Ratna, Gita Cinta, Anak Jalanan, Lenggang Puspita, Sendiri, dan Marlina. Guruh juga sukses mendulang prestasi sebagai ilustrator musik film layar lebar dalam film Ali Topan Anak Jalanan pada 1977.

Dalam dunia seni peran, Guruh pernah menjadi pemeran Sunan Muria dalam film Wali Songo pada 1985.

Pada 1987, Guruh kembali berhasil membuat orang tertuju pada hasil karya lagunya, Kembalikan Bali Padaku, yang dinyanyikan oleh Jopie Latul. Lagu ini menarik perhatian dalam Festival Cipta Lagu Populer Indonesia dan mewakili Indonesia pada World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.

Melalui lagu ini, Guruh mengolaborasikan seni tradisional Bali dengan disco dan rock menjadi aransemen musik yang terdengar tidak asing, bahkan akrab bagi pendengarnya. Kesetiaan putra bungsu Ir. Sukarno dan Ibu Fatmawati terhadap unsur-unsur tradisional Bali dalam karyanya dilandasi kesadaran bahwa ia adalah pewaris tradisi Bali dari leluhurnya.

Swara Maharddhika, Kelompok Seni Anak Muda


Guruh Soekarnoputra. Foto: Medcom.id.

Guruh juga selalu mengamalkan pesan ayahnya yang berulang kali mengingatkan kaum muda untuk menemukan identitas nasionalnya. Kecintaan Guruh pada kesenian dan keinginannya untuk membentuk sebuah organisasi yang mewadahi aktivitas kesenian dan budaya bagi para remaja direalisasikan pada 1977 dengan membentuk sebuah organisasi pemuda bernama Swara Maharddhika.

Organisasi ini lahir dari sebuah vokal grup tak bernama, gabungan pelajar SLTA yang dilatih oleh Jhony Lantang. Pertemuan vokal grup ini dengan Guruh menghasilkan kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bergerak di bidang kesenian.

Pada Minggu, 27 Maret 1977, kelompok anak muda tersebut menamakan dirinya Swara Maharddhika yang mempunyai arti "Suara dari yang Perkasa, Hebat dan Merdeka". Dibentuk dengan tujuan untuk menampung kreativitas seni remaja, organisasi ini sekaligus menjadi wadah Guruh untuk melakukan eksperimen berkesenian.

Dalam organisasi ini, Guruh menggabungkan unsur tari tradisional Indonesia dengan tari modern Barat. Swara Maharddhika menjadi jembatan bagi Guruh untuk mewujudkan impiannya dalam berkesenian.

Pada 1979, Swara Maharddhika mementaskan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (PKC-GSP) I dan berhasil menyuguhkan pementasan yang sangat menarik. Salah satu daya tarik Swara Maharddhika adalah kemunculan unsur tradisional yang dipertunjukkan dalam bentuk kreasi yang lebih populer, sehingga maksud yang terkandung dalam tarian itu mudah dipahami oleh masyarakat. Pada pementasan kolosal itu, Guruh bertindak langsung sebagai koreografer, komposer, sekaligus sutradara.

Keberhasilan PKC-GSP I mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. PKC-GSP I merupakan pentas variety show spektakuler yang dibuat oleh orang pribumi pertama di Indonesia.

Pergelaran Guruh yang identik dengan kemilau, kolosal, dan patriotik itu membanggakan sekaligus mengangkat namanya, sehingga ia menjadi satu-satunya putra Presiden Sukarno yang tampil di pentas nasional pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, di arena bukan politik.

Pertunjukan seni tari atau koreografi Guruh terbagi dalam dua tipe, yang dikenal dengan istilah "pertunjukan besar" dan "pertunjukan kecil". Pertunjukan besar adalah pertunjukan yang khusus dilakukan oleh seluruh anggota Swara Maharddhika dan biasa disebut Pergelaran Swara Maharddhika, sedangkan pertunjukan kecil adalah pertunjukan Swara Maharddhika sebagai acara selingan atau acara tambahan.

Secara konsisten, Guruh terus menghasilkan karya-karya seninya. PKC-GSP II sampai IV terus dipentaskan sejak 1980 hingga 1986.

PKC-GSP II bertajuk Untukmu Indonesiaku diadakan pada 1980, yang kemudian diikuti dengan pembuatan film semi-dokumenter Untukmu Indonesiaku. Secara berturut-turut, pada 1984 Guruh mengadakan PKC-GSP III bertajuk Cinta Indonesia, dan pada 1986 PKC-GSP IV bertajuk Gilang Indonesia Gemilang.

Selain PKC-GSP, terdapat juga pementasan Guruh yang lain, antara lain pergelaran pada pembukaan PON ke-10 di Jakarta pada 1981, pergelaran kolosal untuk pembukaan Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) ke-15 pada 1982, Pergelaran Kolosal Gempita Swara Maharddhika dalam rangka 10 tahun Swara Maharddhika pada 1987, serta pertunjukan kolosal "JakJakJakJak Jakarta" dalam rangka ulang tahun Jakarta ke-462 pada 1989.

Keseluruhan Pergelaran Swara Maharddhika bertema dan bertujuan untuk mencintai kesenian bangsa sendiri dengan mewujudkan semangat nasionalisme dan patriotisme ke dalam tarian.

Dinamika perjalanan Swara Maharddhika sebagai wadah kreativitas seni diwarnai dengan pelarangan pertunjukan dengan nama Swara Maharddhika oleh Guruh. Hal ini diakibatkan oleh pemanfaatan nama organisasi oleh beberapa anggotanya sebagai batu loncatan menjadi artis.

Swara Maharddhika kemudian berubah nama menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1988.

Selanjutnya, Guruh mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa (GSP) Productions yang ditujukan untuk kegiatan bisnis komersial di bidang seni pertunjukan. Pergelaran PT GSP Productions ini tidak hanya diselenggarakan di Indonesia, tetapi juga telah merambah ke mancanegara, di antaranya Singapura, Maroko, Tunisia, Yordania, Berlin Timur, Belgia, Denmark, Swedia, Swiss, Australia, dan negara lainnya.

Sepanjang kariernya di bidang seni, Guruh diakui sebagai salah satu seniman yang besar bukan karena sensasi. Ia merupakan seniman dengan reputasi internasional yang beberapa kali memperoleh penghargaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Karya Guruh telah mewarnai kehidupan kesenian dari berbagai lintas generasi serta tidak lekang oleh waktu. Ia tidak hanya hanyut mengikuti pasar, tetapi justru menciptakan pasar.

Sosoknya yang begitu karismatik hadir dengan rangkaian ide-ide cemerlang yang menempatkan akar seni dan budaya Indonesia di urutan utama setiap karyanya. Guruh tidak hanya memberi warna tersendiri dalam dunia seni, tetapi juga memberi sumbangsih yang cukup berarti dalam kemajuan seni budaya di Indonesia.

Selain aktif dalam bidang seni, Guruh juga aktif dalam bidang kemasyarakatan. Bersama dengan putra-putri Bung Karno lainnya, pada 1976 ia mendirikan Yayasan Bung Karno (Sukarno Foundations). Mulai 1984, Guruh duduk sebagai Ketua Umum Yayasan Bung Karno. Guruh juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan lainnya. Ia menjadi anggota Majelis Pemuda Indonesia, suatu organisasi pemuda yang diprakarsai oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada 1989.

Pada 1990, Guruh duduk sebagai salah satu pendiri dan anggota Yayasan Karya Cipta Indonesia, suatu yayasan yang bergerak dalam bidang hak cipta di Indonesia. Organisasi kemasyarakatan lain yang sering berhubungan dengan Guruh pada periode 1973-1990 yaitu Gema Patriot, Indonesian Jaycees, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Yayasan Pendidikan Sukarno, Yayasan Perguruan Cikini, dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Guruh juga aktif dalam kegiatan politik bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

(Muhamad Marup)