Buku Kinarya Kupas Inovasi Teknologi dan dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat

Penulis buku dari Yayasan Batik Jawa Barat, Komarudin Kudiya. (Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan)

Buku Kinarya Kupas Inovasi Teknologi dan dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat

Roni Kurniawan • 25 October 2026 15:51

Bandung: Peluncuran buku Kinarya dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat memperluas wawasan masyarakat tentang sejarah, motif, teknologi, proses kreatif, dan pengolahan limbah batik. Buku ini juga diharapkan mendorong generasi muda untuk ikut mengembangkan batik.

Penulis buku dari Yayasan Batik Jawa Barat, Komarudin Kudiya mengatakan, literasi memiliki peran penting dalam membuka wawasan dan melahirkan gagasan baru. Buku dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus referensi untuk mengembangkan kreativitas di dunia batik.

"Buku itu sebenarnya merupakan jendela dunia. Dengan adanya buku dan literasi, kita bisa membaca dan melihat berbagai hal. Menurut saya, buku itu sangat penting," ujar Komar usai peluncuran buku Kinarya dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat di Hotel Golden Flower Bandung, Minggu, 25 Oktober 2026.


Komar menilai, ketersediaan buku yang membahas pengembangan batik secara menyeluruh masih terbatas. Selama ini, banyak buku batik lebih menitikberatkan pada katalog yang menampilkan koleksi kain, ragam hias, dan motif-motif tradisional.

Menurut Komar, dokumentasi motif batik memang penting untuk menjaga warisan budaya. Namun, pembahasan mengenai inovasi teknologi, proses penciptaan karya, serta pengelolaan limbah juga perlu mendapat perhatian agar pengetahuan tentang batik terus berkembang.

"Di dunia batik, buku yang membahas bagaimana batik dikembangkan, bagaimana perkembangan teknologi batik terkini, serta bagaimana mendorong generasi muda agar mau membatik masih sangat sedikit," beber Komar.

Komar menegaskan, pengembangan batik tidak harus berhenti pada metode tradisional. Inovasi peralatan dapat dilakukan untuk mendukung proses berkarya tanpa menghilangkan prinsip dasar maupun mengesampingkan peran tenaga terampil yang selama ini menjadi bagian penting dalam industri batik.

Komar mencontohkan perkembangan teknologi membatik yang berawal dari penggunaan canting, kemudian berkembang melalui teknik canting cap. Seiring kemajuan teknologi, berbagai peralatan baru juga dikembangkan untuk memberikan alternatif dalam proses pembuatan motif batik.

Komar menuturkan, sejumlah peralatan yang dikembangkannya, antara lain pendulum batik dan rel canting batik. Komar juga mengembangkan alat berbentuk pendulum dengan ukuran lebih kecil, sederhana, dan fungsional untuk mendukung proses kreatif.


Peluncuran buku Kinarya dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat. (Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan)


Meski demikian, Komar mengingatkan inovasi peralatan tetap perlu memperhatikan prinsip dasar batik. Penggunaan alat selain canting tidak serta-merta menghilangkan karakter batik selama proses pembuatannya tetap menggunakan lilin panas sebagai perintang warna.

"Selama ini, batik memang identik dengan canting dan lilin panas. Namun, sekarang orang boleh saja menggunakan alat lain selain canting, selama prinsip yang mengikat proses tersebut tetap menggunakan lilin panas sebagai perintang warna," ucap Komar.

Komar juga menyoroti penggunaan bahan lain, seperti gutta yang berasal dari getah, dalam pembuatan tekstil bercorak menyerupai batik. Proses tersebut perlu dibedakan berdasarkan teknik dan bahan yang digunakan.

"Berdasarkan definisi batik yang kita sampaikan kepada UNESCO, batik harus menggunakan lilin panas sebagai perintang warna. Karena itu, jika prosesnya tidak menggunakan lilin panas, untuk saat ini produk tersebut belum dapat disebut batik," ungkap Komar.

Melalui buku Kinarya dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat, pengembangan literasi batik diharapkan tidak hanya memperkuat dokumentasi warisan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi eksplorasi artistik, inovasi teknologi, dan regenerasi pembatik. 

"Intinya, buku ini menjelaskan bahwa proses kreatif setiap pembatik, mau tidak mau, harus melalui proses belajar dan penguatan literasi," ujar Komar.

(Silvana Febiari)