Dolar AS Capai Level Tertinggi dalam 2 Minggu Jelang Keputusan The Fed

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Capai Level Tertinggi dalam 2 Minggu Jelang Keputusan The Fed

Eko Nordiansyah • 28 October 2026 09:05

New York: Dolar AS mencapai level tertinggi dalam dua minggu pada Selasa, 27 Oktober 2026, sehari sebelum keputusan penting Federal Reserve terkait suku bunga. Pekan ini dipenuhi dengan agenda bank sentral, sejumlah institusi global dijadwalkan akan mengambil kebijakan terkait suku bunga.

Pergerakan dolar terjadi di tengah sentimen risk-on (selera risiko tinggi) di Wall Street karena para pedagang memburu aset-aset yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Pelemahan euro, yang dipicu oleh kekhawatiran fiskal di Prancis, turut mendorong penguatan dolar.

Dikutip dari Investing, Rabu, 28 Oktober 2026, indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,4 persen ke level 102,37.

The Fed menjadi sorotan utama

Setelah pekan sebelumnya minim katalis bagi pelaku pasar mata uang pekan ini menghadirkan banyak perkembangan di kedua aspek tersebut. Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari Selasa memulai pertemuan dua harinya. Pertemuan ini diperkirakan secara luas akan berakhir dengan keputusan untuk mempertahankan suku bunga, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga pada September, kenaikan pertama sejak 2023.

Kemungkinan tidak adanya perubahan kebijakan oleh FOMC semakin kuat, meskipun laporan inflasi konsumen dan produsen AS awal bulan ini menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan. Selain itu, Ketua The Fed, Kevin Warsh, baru-baru ini menolak memberikan panduan apa pun terkait keputusan yang akan diambil.

Sehari setelah keputusan The Fed, para pelaku pasar akan menerima dua indikator ekonomi penting: data produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal ketiga serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures price index) untuk September, yang merupakan tolok ukur inflasi pilihan The Fed.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Euro dan yen kompak turun

Di Eropa, mata uang tunggal tersebut turun 0,5 persen menjadi USD1,1122, level terendah dalam hampir dua minggu dan mencatatkan penurunan sekitar 1,5 persen sepanjang Oktober.

Aksi jual obligasi pemerintah Prancis pekan lalu mendorong premi risiko utang negara tersebut ke level tertinggi sejak krisis utang negara tahun 2011, yang memicu kembali kekhawatiran mengenai tekanan keuangan di seluruh zona euro.

Imbal hasil obligasi 10 tahun Prancis sempat menyentuh 5,14 persen pekan lalu dan kembali pulih pada hari Senin setelah Moody’s memutuskan untuk tidak menurunkan peringkat utang Prancis pada Jumat. Meski demikian, para ahli strategi di Barclays menyatakan tekanan di Prancis kemungkinan tidak akan mereda sebelum pemilihan presiden musim semi mendatang.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga simpanan (deposit rate) di angka 2,5 persen pada hari Kamis.

Di Asia, yen Jepang melemah ke level 157,96 per dolar. Padahal, mata uang ini sempat mencapai level tertinggi dalam satu bulan pada pekan lalu, saat kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (AI) memicu lonjakan permintaan terhadap aset aman (safe haven).

Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 1,25 persen pada akhir pertemuan dua hari yang berakhir Jumat ini, namun diperkirakan akan memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman seiring dengan meningkatnya tekanan harga. Kenaikan suku bunga pada bulan September lalu telah membawa tingkat suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir.

(Eko Nordiansyah)