Dolar AS. Foto: Freepik.
Dolar AS Tergelincir di Akhir Pekan setelah Menguat Berhari-hari
Husen Miftahudin • 26 September 2026 08:52
New York: Dolar AS melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat waktu setempat, setelah pasar mencermati kekhawatiran inflasi yang dipicu sektor energi, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, data ekonomi yang positif, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Xinhua, Sabtu, 26 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,31 persen menjadi 100,971.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1399 dari USD1,1374 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3252 dari USD1,3217.
Sementara itu, dolar AS melemah terhadap yen Jepang menjadi 157,13 yen dari 158,85 yen pada sesi sebelumnya. Dolar juga turun terhadap krona Swedia menjadi 9,9045 dari 9,9224.
Terhadap dolar Kanada, greenback sedikit menguat menjadi 1,4144 dari 1,4141. Sementara itu, pergerakan dolar terhadap franc Swiss dalam data sumber tercatat pada level 0,8282.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Menuju kenaikan dua pekan beruntun
Mengutip Investing.com, meski melemah pada perdagangan Jumat, indeks dolar AS masih naik hampir satu persen sepanjang pekan. Kinerja tersebut menempatkan dolar dalam jalur kenaikan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.
Penguatan dolar sepanjang pekan didorong sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran inflasi yang berkaitan dengan sektor energi, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, data ekonomi yang positif, serta penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Aksi jual obligasi pemerintah AS, terutama pada surat utang berjangka panjang, turut menjadi perhatian pelaku pasar mata uang dan menekan pasar saham Wall Street. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2007 pada awal pekan.
Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juni 2004. Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi salah satu perhatian pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya.
Pasar obligasi sempat merespons kenaikan suku bunga tersebut sebagai sinyal komitmen bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Namun, pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish dan data aktivitas bisnis AS yang kuat meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendukung penguatan dolar AS karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.