7 Tradisi Unik Lebaran dari Berbagai Wilayah Indonesia

Tradisi ngejot Bali. (Balitraveldiary.com)

7 Tradisi Unik Lebaran dari Berbagai Wilayah Indonesia

Riza Aslam Khaeron • 24 March 2026 11:24

Jakarta: Perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H bagi umat Islam Indonesia tidak pernah terlepas dari tradisi-tradisi khas, mulai dari menyalakan kembang api, memasak makanan khas Lebaran, hingga menyantapnya bersama keluarga.

Namun, selain tradisi umum yang diketahui mayoritas masyarakat, terdapat berbagai tradisi Lebaran yang unik dan menarik di beberapa wilayah.

Terlepas dari perbedaan cara selebrasinya, baik yang konvensional maupun yang unik, intinya tetap merujuk pada keinginan merayakan Hari Raya Idulfitri yang datang setahun sekali. Perbedaan selebrasi ini merupakan bentuk kebersamaan dalam ekspresi yang berbeda, namun dengan satu tujuan.

Simak di sini tujuh tradisi Lebaran unik dari berbagai daerah di Indonesia:

Bengkulu - Ronjok Sayak

Di daerah Bengkulu, perayaan Hari Raya Idulfitri identik dengan tradisi Ronjok Sayak. Ronjok Sayak adalah tradisi pembakaran batok kelapa yang dilakukan oleh penduduk suku Serawai di Bengkulu. Tradisi ini dilakukan pada malam Lebaran.

Warga sebelumnya mengumpulkan batok kelapa dalam jumlah banyak, lalu membakarnya bersama-sama hingga membentuk tumpukan api. Umumnya, Ronjok Sayak dilakukan setelah salat Isya.

Tradisi ini kaya akan makna filosofis dan simbolis, menjadi ekspresi gairah nilai kebersamaan dan keinginan diri yang suci dalam rangka menyambut Idulfitri setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan. Dalam sejarah Bengkulu, Ronjok Sayak merupakan warisan turun-temurun suku Serawai yang diperkirakan telah dijalani selama ratusan tahun.

Banten - Andon Mangan

Di Banten, tepatnya bagi penduduk Kecamatan Walantaka, Kota Serang, terdapat tradisi Andon Mangan, yaitu ziarah ke makam leluhur sebelum makan bersama. Andon Mangan dilaksanakan pada hari ke-7 Hari Raya Idulfitri.

Makna di balik Andon Mangan adalah kepercayaan bahwa arwah para leluhur ikut "menyantap" hidangan yang digelar di atas daun pisang. Setelah itu, warga secara bersama-sama menikmati hidangan tersebut sebagai wujud kebersamaan.

Bali - Ngejot

Di Bali, budaya toleransi dan kebersamaan pulau tersebut mengalir dalam perayaan Idulfitri melalui tradisi Ngejot. Tradisi ini berupa berbagi berbagai hidangan, kue, dan buah-buahan, baik kepada sesama umat Islam maupun kepada masyarakat yang berbeda agama.

Tidak hanya itu, pemeluk agama Hindu yang menerima hantaran tersebut biasanya akan membalas kebaikan tersebut pada Hari Raya Galungan. Tradisi ini melambangkan nilai berbagi di hari suci Lebaran serta toleransi di antara perbedaan kepercayaan.

Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) - Perang Topat


Tradisi Perang Topat Lingsar Lombok. (tourbalilombok.com)

Di Lombok, NTB, terdapat tradisi Perang Topat yang dilaksanakan enam hari setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini disebut juga Lebaran Topat atau Perayaan Lebaran Ketupat. Rangkaian perayaan dimulai dengan ziarah ke Makam Loang Baloq di dekat Pantai Tanjung Karang Mapak sejak pagi hari.

Di sana terdapat ritual mencuci muka dan kepala menggunakan air dari makam yang dianggap keramat, disertai doa kepada Sang Khalik.

Selain itu, sebagai simbol rasa syukur atas rezeki, perayaan diramaikan dengan hidangan khas yang dinikmati bersama di sekitar area pemakaman.

Setelah ziarah, lokasi berpindah ke sepanjang pantai, mulai dari Pantai Bintaro hingga Pantai Tanjung Karang. Perayaan kelestarian budaya ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah melalui pementasan musik tradisional. Tradisi Perang Topat bermakna syukur atas selesainya puasa sunah Syawal serta melestarikan budaya warisan nenek moyang.
 
Baca Juga:
Fenomena Pendatang Baru, Warga Jakarta Ingatkan Kerasnya Persaingan Kerja
 

Aceh - Mak Meugang

Bagi penduduk Aceh, Mak Meugang merupakan tradisi yang tidak hanya dilakukan sehari sebelum Idulfitri, tetapi juga sehari sebelum Ramadan dan Iduladha. Tradisi ini diisi dengan penyembelihan hewan seperti kambing, bebek, sapi, atau ayam untuk dimasak menjadi hidangan tradisional seperti daging rebus, rendang, dan lainnya.

Hidangan ini disantap bersama keluarga serta dibagikan kepada yatim piatu dan fakir miskin.

Tradisi Mak Meugang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1607–1636 Masehi, yakni era Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Dalam sejarahnya, Sultan membagikan daging hewan ternak kepada rakyat agar terdapat kesetaraan dan memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan saat hari raya.

Yogyakarta - Grebeg Syawal

Di Yogyakarta, perayaan Idulfitri dimeriahkan dengan tradisi Grebeg Syawal di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Grebeg Syawal merupakan upacara adat yang dilaksanakan pada hari pertama Lebaran sebagai simbol rasa syukur atas selesainya bulan Ramadan.

Selain bermakna religius, tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi penduduk sekitar dan wisatawan, melambangkan kebersamaan antara pemimpin dan rakyatnya.

Sulawesi Utara - Binarundak

Di Sulawesi Utara, khususnya bagi suku Mongondow di Kotamobagu, terdapat tradisi Binarundak. Dalam tradisi ini, penduduk berkumpul untuk membakar nasi jaha (makanan khas Sulawesi Utara yang terbuat dari beras ketan, jahe, dan santan di dalam bambu) secara massal.

Binarundak umumnya dilaksanakan sekitar tiga hari hingga seminggu setelah Idulfitri. Tradisi ini kaya akan makna kebersamaan, saling memaafkan, serta memperkuat ikatan persaudaraan. Para penduduk berkumpul di satu area, menikmati nasi jaha bersama-sama sembari diiringi syair, doa syukur, dan musik tradisional.

(Odetta Aisha Amrullah)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)