Ilustrasi, dolar AS. Foto: MI/Ramdani.
Dolar AS Sentuh Level Terendah
Husen Miftahudin • 15 June 2026 09:25
Hong Kong: Dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada perdagangan Senin ke level terendah 10 hari terhadap mata uang utama lainnya. Ini terjadi karena AS telah menyetujui kesepakatan damai dengan Iran, menyebabkan harga minyak anjlok dan meningkatkan permintaan untuk aset yang lebih berisiko.
Mengutip Investing.com, Senin, 15 Juni 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, turun 0,31 persen menjadi 99,492. Ini menjadi level terlemah sejak 5 Juni 2026.
Sementara itu, euro berada di angka USD1,1607, naik 0,35 persen sejauh ini di Asia, dan Poundsterling menguat 0,3 persen menjadi USD1,3448.
Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko, diperdagangkan pada USD0,7075, naik 0,50 persen. Sementara dolar Selandia Baru naik 0,4 persen menjadi USD0,5854.
Yen Jepang melemah hingga mencapai 160,150, dan terus berfluktuasi di sekitar level 160 yang secara luas dianggap sebagai batas toleransi untuk potensi intervensi pemerintah.
| Baca juga: Ini Faktor-faktor yang Bikin Rupiah Terus Menguat |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Kesepakatan damai AS-Iran
Para pejabat AS dan Iran mengatakan mereka telah menyepakati kerangka kerja untuk mengakhiri perang mereka, menghentikan blokade AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak pun langsung turun, dengan Brent turun lebih dari empat persen menjadi USD83,82 per barel.
Namun, kehati-hatian tetap ada ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, ia akan memulai kembali serangan militer terhadap Teheran atau menjadikan AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20 persen dari pendapatan kawasan tersebut.
"Saya pikir kita akan melihat dolar melemah dalam beberapa sesi ke depan. Kita mungkin akan melihat beberapa mata uang berisiko seperti dolar Australia dan yen sedikit menguat. Tetapi saya rasa kita tidak akan melihat pergerakan besar," kata Kepala Ahli Strategi Pasar di ATFX Global Sydney, Nick Twidale.
"Akan ada banyak waktu untuk menunggu dan melihat, seberapa cepat Selat itu benar-benar dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar aliran minyak benar-benar kembali normal. Ini pasti akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu," tambah dia.