Atraksi seni kolosal
'Kuntulan Ewon' Meriahkan Hardiknas 2026 di Banyuwangi
Silvana Febiari • 2 May 2026 14:45
Banyuwangi: Atraksi kesenian kolosal 'Kuntulan Ewon' memeriahkan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.
"Kuntulan merupakan salah satu kesenian khas Banyuwangi dengan musik hadrah yang melantunkan lagu-lagu Islami, sedangkan ewon adalah seribuan peserta dari pelajar SD, SMP dan SMA dalam atraksi seni kolosal tersebut, yang terbagi atas 560 penabuh hadrah dan 500 pelajar penari," kata Abdul Mu'ti setelah upacara Hardiknas 2026 dan menyaksikan seni kolosal Kuntulan Ewon di Taman Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, dilansir dari Antara, Sabtu, 2 Mei 2026.
Mu’ti menyebut perayaan Hardiknas 2026 di Banyuwangi sebagai yang paling meriah di Indonesia karena berhasil memadukan kearifan lokal dengan semangat kemajuan pendidikan. Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi yang melibatkan pelajar untuk mengaktualisasikan potensi mereka.
Baca Juga :
"Anak-anak kita boleh menjadi anak yang berwawasan global, dan itu harus, tapi mereka tidak boleh meninggalkan nilai dan budaya lokal yang luhur," ucap Mendikdasmen.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa momentum Hardiknas tidak hanya menjadi refleksi kemajuan pendidikan. Ia juga menekankan peringatan ini menjadi ajang menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah.
"Lewat Kuntulan Ewon, kami ingin menunjukkan bahwa pelajar Banyuwangi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan spiritual," tuturnya.
Atraksi seni kolosal 'Kuntulan Ewon' berlangsung semarak. Lebih dari seribu pelajar mulai SD hingga SMA dari berbagai sekolah menampilkan dengan apik di hadapan Mendikdasmen Abdul Mu'ti.
Para pelajar berkolaborasi dengan seniman dan budayawan dalam menampilkan pertunjukan seni tradisi. Aksi tersebut memadukan gerak, musik, dan nilai-nilai religius sebagai wujud sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian seni budaya lokal.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti dan Bupati Ipuk Fiestiandani foto bersama dengan pelajar peserta seni kolosal "Kuntulan Ewon" pada Hari Pendidikan Nasional 2026 di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 2 Mei 2026. ANTARA/Novi Husdinariyanto
Kesenian kuntulan merupakan salah satu bentuk seni tradisi yang berkembang di Banyuwangi. Seni kuntulan berakar dari kesenian hadrah yang dibawa oleh para ulama sebagai media dakwah Islam.
Dalam perkembangannya, kesenian ini mengalami akulturasi dengan budaya lokal. Hal tersebut melahirkan bentuk pertunjukan yang khas melalui perpaduan gerak tari, tabuhan alat musik rebana, serta bait-bait pujian Islami.
Para pelajar tampil kompak dengan gerakan dinamis yang berpadu dengan tabuhan rebana dan lantunan selawat. Perpaduan tersebut menciptakan suasana khidmat sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan.
Seribuan pelajar tampil memenuhi lapangan Taman Blambangan dengan formasi rapi dan berlapis. Para penabuh hadrah mengenakan busana khas adat Osing hitam udeng dipadu aksen merah putih membentuk garis panjang serempak.
Sementara itu, para penari bergerak lincah mengikuti irama sambil mengangkat tangan dan melangkah cepat selaras dengan tabuhan. Gerakan tersebut menciptakan gelombang yang harmonis dan memukau penonton.