Dolar AS. Foto: Freepik.
Dolar AS Melemah Lagi
Husen Miftahudin • 11 February 2026 08:30
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Pelemahan ini terjadi di tengah momentum pasar yang sedikit terhambat oleh laporan dari Departemen Perdagangan, yang menunjukkan penjualan ritel AS secara tak terduga stagnan pada Desember.
Mengutip Xinhua, Rabu, 11 Februari 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,02 persen menjadi 96,799.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1894 dari USD1,1921 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3666 dari USD1,3699 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 154,49 yen Jepang, lebih rendah dari 155,68 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,7682 franc Swiss dari 0,7660 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun menjadi 1,3551 dolar Kanada dari 1,3557 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 8,9021 krona Swedia dari 8,9094 krona Swedia.
| Baca juga: Dolar AS Dipukul Mundur 6 Mata Uang Utama Dunia |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Penjualan ritel AS stagnan
Momentum pasar sedikit terhambat oleh laporan dari Departemen Perdagangan yang menunjukkan penjualan ritel AS secara tak terduga stagnan pada Desember. Stagnasi selama periode liburan ini jauh di bawah proyeksi pertumbuhan 0,4 persen yang diprediksi para ekonom.
Sementara itu, laporan triwulanan Bank Federal Reserve New York tentang utang rumah tangga mengungkapkan saldo agregat meningkat sebesar USD191 miliar pada kuartal keempat menjadi total USD18,8 triliun.
Yang perlu diperhatikan, tingkat tunggakan untuk pinjaman mobil dan kartu kredit mencapai level tertinggi dalam sekitar 15 tahun, terutama di wilayah dengan kode pos berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, sektor keuangan menghadapi tekanan khusus pada Selasa setelah platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak baru yang didukung oleh kecerdasan buatan.
Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan luas terhadap model pengelolaan kekayaan tradisional, yang menyebabkan penurunan 8,31 persen pada LPL Financial dan penurunan 7,42 persen pada Charles Schwab.