Pahlawan di TPST Bantargebang: Asa Baru Warga Lewat Tangan Apong

Perintis Komunitas Pemulung Bantargebang Sejahtera (KPBS), Apong. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.

Pahlawan di TPST Bantargebang: Asa Baru Warga Lewat Tangan Apong

Siti Yona Hukmana • 3 November 2026 12:52

Jakarta: Di balik deru truk sampah dari kota yang tak pernah berhenti, sosok Apong hadir sebagai simpul harapan bagi warga di Bantargebang. Pria kelahiran 1980-an yang bertempat tinggal di Sumur Batu itu mendedikasikan hidupnya untuk membela hak-hak pemulung serta menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka berpijak di tanah itu.

Kepedulian Apong bermula dari tingginya diskriminasi yang kerap diterima para pekerja sampah hingga keluarga pemulung. Mulai dari penolakan fasilitas kesehatan sampai dengan akses pendidikan.

“Pemulung itu kalau berobat tuh masih banyak penolakan pada awalnya. Kita yang gerak tuh. Dulu gini, tadinya ada pemulung yang meninggal, mereka mau pulang ke kampungnya kan kadang-kadang nggak punya biaya tuh. Jadi kita caranya ngecerek lah dulu mah,” ujar perintis KPBS, Apong dalam wawancara dengan Metrotvnews.com, di Sumur Batu, Bekasi, dikutip Selasa, 3 November 2026.

Apong menggalang solidaritas warga untuk saling bantu kondisi darurat melalui Komunitas Pemulung Bantargebang Sejahtera (KPBS). Gerakan yang diinisiasinya bersama rekan media, Bang Rido, tak berhenti pada urusan kesehatan dan penggalangan dana duka semata, tetapi sekaligus merambah ke sektor pendidikan anak-anak pemulung. 

Apong mengungkap aksi sosial yang mereka jalankan dimulai sejak 2016 hingga 2017. Namun pembentukan wadah resmi KPBS sekitar 2023.

“Tapi semenjak (komunitas) kita berdiri, kita advokasi ini alhamdulillah banyak anak-anak pemulung yang dapat sampai ke jenjang SMA, SMK, bahkan kuliah. Di sebelah sana juga sudah berdiri TK,” ujar Apong.

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Jakarta Timur. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.

Tidak hanya memperjuangkan kesejahteraan warga, Apong memperluas jangkauan perjuangan ke ranah penyelamatan ekosistem lingkungan di kawasan sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). KPBS diketahui kini memiliki 13 simpul yang tergabung dalam Komunitas Prabu Peduli Lingkungan guna melakukan aksi swadaya salah satunya penghijauan.

Salah satu aksi nyata dari gerakan itu ialah menanam puluhan bibit pohon produktif seperti asam dan durian di area pemakaman lokal untuk meredam polusi udara. Langkah ini sekaligus menjadi teguran terbuka bagi pihak pengelola sampah agar lebih tanggap terhadap kondisi ekologis di sekitar pemukiman.

“Intinya, kita penghijauan lah, tanam pohon apa saja yang produktif di pemakaman. Seharusnya dari pihak TPST yang peduli, itu mah kita sentil pakai komunitas,” ujar Apong.

Konsistensi Apong dalam merawat kemanusiaan dan lingkungan menjadikan dirinya sosok pahlawan di kawasan Sumur Batu, Bantargebang.

“Cuma kita enggak pakai kartu anggota. Pokoknya setiap pemulung itu udahlah kita anggap bagian kita,” ujar Apong.

(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)

(Siti Yona Hukmana)