Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Rabu Sore, Rupiah Ditutup Naik 0,07% ke Level Rp17.887/USD
Husen Miftahudin • 7 October 2026 15:53
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami kenaikan tipis.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 7 Oktober 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.887 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis 12 poin atau setara 0,07 persen dari posisi Rp17.899 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan hari ini mata uang rupiah ditutup menguat 12 poin, sebelumnya sempat menguat 20 poin di level Rp17.887 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.899 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.878 per USD. Rupiah menguat 27 poin atau setara 0,15 persen dari Rp17.905 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.880 per USD naik 30 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.910 per USD.
Krisis Timur Tengah makin memanas
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh perkembangan terbaru terkait krisis Timur Tengah, dimana kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyatakan telah melancarkan tiga operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar bandara, fasilitas minyak, serta lokasi militer di seluruh wilayah Arab Saudi.
Iran terlihat meningkatkan intensitas serangan di Selat Hormuz selama sepekan terakhir. Iran berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi pelayaran sampai AS memenuhi tuntutan mereka, serta memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute yang didukung AS saat melintasi selat tersebut.
Sementara itu, hubungan AS-Iran tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Selasa bahwa tidak ada yang tahu siapa yang sebenarnya memimpin Iran di tengah konflik delapan bulan antara AS-Israel dan Iran.
"Para pemimpin mereka sudah tidak ada, jajaran pemimpin lapis kedua mereka juga sudah tidak ada, dan masalah terbesarnya adalah tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjalankan negara itu," kata Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu menyatakan Washington sangat memahami siapa pihak lawan bicara mereka di Iran serta bagaimana sistem pengambilan keputusan di negara tersebut bekerja.
Di samping itu, laporan media mengindikasikan bahwa Israel sedang mempersiapkan potensi serangan terhadap Iran baik melalui koordinasi dengan AS maupun secara mandiri, yang meningkatkan risiko eskalasi ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah.

(Ilustrasi: Foto: Magnific)
Cadangan devisa tetap terjaga
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap terjaga sebesar USD146,3 miliar, turun tipis sekitar USD200 juta dibanding dengan posisi pada akhir Agustus 2026 sebesar USD146,5 miliar. Perkembangan posisi cadangan devisa September 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dan bauran ekonomi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.