Wall Street Menguat Ditopang Rilis Inflasi AS

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Wall Street Menguat Ditopang Rilis Inflasi AS

Eko Nordiansyah • 13 August 2026 08:22

New York: Saham-saham Wall Street ditutup menguat pada Rabu, 12 Agustus 2026, setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada Juli sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari Investing, Kamis, 13 Agustus 2026, indeks S&P 500 naik 0,3 persen ke level 7.749,19 poin. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,5 persen menjadi 26.588,49 poin. Sementara Dow Jones Industrial Average berakhir relatif datar di level 53.770,16 poin.

Inflasi AS sesuai perkiraan

Perhatian investor pada Rabu tertuju pada rilis indeks harga konsumen (CPI) AS Juli sebagai petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Data tersebut dirilis setelah laporan ketenagakerjaan Juli yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan lalu mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada September.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat inflasi utama naik 0,1 persen secara bulanan pada Juli, setelah turun 0,4 persen pada Juni. Secara tahunan, inflasi melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen.

Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan setelah stagnan pada Juni. Secara tahunan, CPI inti melambat menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen.
(Ilustrasi. Foto: iStock)

Data CPI tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan dibandingkan kembali menaikkannya, terutama setelah kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan.

Ekspektasi tersebut tercermin dalam CME FedWatch. Probabilitas pasar terhadap keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi 62 persen setelah data CPI dirilis, dari 54 persen sebelumnya.

Pasar selanjutnya menunggu rilis data indeks harga produsen (PPI) AS Juli pada Kamis. Selain CPI dan PPI, The Fed juga menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai salah satu indikator utama dalam mengukur inflasi. Komponen CPI dan PPI turut menjadi input dalam perhitungan PCE.

Meski data Juli sesuai perkiraan, inflasi AS berpotensi kembali meningkat pada Agustus seiring kenaikan harga minyak global yang mencapai lebih dari 20 persen pada bulan sebelumnya.

Saham teknologi menguat

Penguatan Wall Street juga ditopang kinerja saham teknologi, khususnya perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Saham CoreWeave melonjak lebih dari 19 persen setelah perusahaan komputasi awan berbasis AI tersebut mencatatkan rekor pendapatan selama lima kuartal berturut-turut. Kinerja tersebut mencerminkan tingginya permintaan terhadap daya komputasi untuk mendukung pengembangan sistem AI.

Backlog penjualan CoreWeave juga meningkat menjadi USD104 miliar. Perusahaan yang didukung Nvidia tersebut menyebut telah mengamankan komitmen pelanggan baru bersih senilai USD25 miliar pada kuartal berjalan.

Saham Super Micro Computer juga melonjak lebih dari 19 persen setelah produsen server AI tersebut memberikan proyeksi pendapatan tahun fiskal 2027 yang jauh melampaui ekspektasi analis.

Penguatan saham teknologi turut mendorong sektor teknologi S&P 500 naik 1,1 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia juga menguat 2,5 persen.

Dengan inflasi yang masih sesuai perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang mereda, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data PPI serta indikator ekonomi berikutnya untuk mengukur arah kebijakan The Fed.

(Eko Nordiansyah)