Iran Dilaporkan Targetkan Anak Netanyahu dan Donald Trump

Putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu (kiri) dan Putra Presiden AS Donald Trump, Barron Trump. (Wikimedia commons dan EFE)

Iran Dilaporkan Targetkan Anak Netanyahu dan Donald Trump

Riza Aslam Khaeron • 26 August 2026 21:47

Washington DC: Iran dilaporkan tengah menargetkan putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di waktu bersamaan pemerintah Iran mengirim ancaman kepada putra Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Laporan lebih detail terkait rencana pembunuhan putra Netanyahu ini dipublikasikan oleh media sayap kanan AS Newsmax pada Rabu, 26 Agustus 2026, sehari setelah Netanyahu menyampaikan dalam wawancara telepon dengan Channel 14 Israel bahwa "Iran menargetkan salah satu putra saya. Iran mencoba membunuh salah satu putra saya."

Netanyahu tidak menyebutkan nama putra yang dimaksud maupun memberikan rincian teknis terkait rencana tersebut. Namun, sumber yang dikutip Newsmax menyatakan bahwa intelijen Israel telah mengendus rencana pembunuhan terhadap Yair Netanyahu di Florida sejak Desember 2025.

Melansir Times of Israel, badan intelijen kepada Newsmax meyakini bahwa agen-agen Iran "berada di lapangan" di kawasan Miami untuk memantau pergerakan putra bungsu Netanyahu tersebut. Atas petunjuk intelijen, Yair diperintahkan segera meninggalkan Florida dan kembali ke Israel saat itu juga tanpa sempat mengemas barang-barangnya. Sejak saat itu, Yair menetap di Israel.

Yair Netanyahu (35 tahun) sebelumnya tinggal dalam jangka waktu lama di Miami. Gaya hidupnya serta fasilitas pengawalan ketat yang didanai anggaran negara kerap menjadi sorotan publik di Israel.

Keberadaannya di luar negeri juga memicu kritik menyusul pecahnya perang pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023, di mana publik Israel mempertanyakan alasan Yair tetap berada di luar negeri sementara ratusan ribu warga Israel dipanggil bertugas sebagai prajurit cadangan.

Menanggapi kritik tersebut, Netanyahu membela pemberian pengawalan ketat kepada putra-putranya. Dalam wawancara dengan Channel 14, ia menegaskan bahwa tanpa pengamanan tersebut, calon pembunuh "akan berhasil."

Putra perdana menteri ini dikenal aktif di media sosial dengan melontarkan pandangan politik yang memicu kontroversi, termasuk menyerang lawan politik ayahnya, pengkritik pemerintah, dan media. Podcaster dan aktivis sayap kanan ini juga memiliki jejaring dengan sejumlah tokoh politik sayap kanan di Eropa dan Amerika Serikat.
 

Ancaman Iran Terhadap Barron Trump dan Keluarga Trump


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri), berpose bersama Presiden AS Donald Trump (kanan) selama pertemuan pada hari Selasa di Gedung Putih di Washington, DC (AS) 28 Juli 2026. (EFE/X/@netanyahu)

Di pihak lain, Dinas Rahasia AS (US Secret Service) mengonfirmasi tengah menyelidiki rekaman video yang disiarkan media pemerintah Iran yang memuat ancaman terhadap putra bungsu Donald Trump, Barron Trump.

"Dinas Rahasia AS mengetahui video tersebut dan menyelidiki apa pun yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap orang yang kami lindungi," ujar juru bicara Dinas Rahasia, Nate Herring, dalam keterangan resminya.

Mengutip Time, video berdurasi hampir tiga menit itu dibuka dengan grafis bertuliskan "Di Mana Membunuh Barron Trump".

Narasi video mengklaim bahwa pergerakan Barron yang kini berusia 20 tahun berada di bawah pemantauan. Rekaman tersebut juga merinci lokasi-lokasi yang terhubung dengan Barron, termasuk kampus dan Trump Tower di New York, lengkap dengan informasi pengamanannya. Narator dalam video tersebut turut menyebutkan imbalan sebesar 10 juta dolar AS terkait aksi terhadap Barron.

Penayangan video tersebut menyusul rilis materi serupa pada Juli lalu oleh kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC. Video bulan Juli itu berfokus pada Ibu Negara Melania Trump dan memaparkan analisis celah keamanan untuk melakukan percobaan pembunuhan, yang diakhiri dengan kalimat ancaman: "Barron Trump, tunggu kami!"

Donald Trump sendiri terus menjadi target ancaman Iran sejak masa jabatan pertamanya. Ketegangan meningkat sejak ia memerintahkan serangan udara yang menewaskan Jenderal Iran Qasem

Soleimani pada awal 2020. Situasi memanas ketika AS melancarkan aksi militer terhadap Iran pada akhir Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Putra sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei, bersumpah membalas kematian sang ayah.
 
Narasi pembalasan Iran kerap ditampilkan melalui berbagai materi visual publik. Bulan lalu, sebuah mural yang menggambarkan potret Keluarga Presiden AS di atas peti mati berselimut bendera AS dipasang di Lapangan Palestina, Teheran. Pada periode yang sama, sebuah papan reklame di Lapangan Enqelab menampilkan visual mirip sosok Trump di dalam peti mati.

"Saya pikir bukan rahasia lagi, sudah ada di media bahwa Iran secara terbuka mengatakan mereka ingin membunuh Presiden Donald Trump," kata Wakil Direktur Dinas Rahasia AS Matt Quinn saat berbicara kepada awak media pada bulan Juli.

Awal bulan ini, Trump mengonfirmasi bahwa ia sempat berganti pesawat secara diam-diam saat meninggalkan KTT NATO di Turki pada Juli lalu akibat potensi ancaman keamanan.

Merespons ancaman terhadap dirinya, Trump menegaskan bahwa setiap upaya "untuk membunuh, atau mencoba membunuh, Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini SAYA" akan dibalas dengan "kehancuran" dan "penghancuran" Iran oleh militer AS.

(Riza Aslam Khaeron)