Dari 33 UMKM kerajinan tangan yang disurvei, sebanyak 21 UMKM sebenarnya telah memasok produknya kepada eksportir. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah
UMKM Kerajinan Tangan Indonesia Punya Potensi Perluas Pasar Internasional
Gervin Nathaniel Purba • 3 November 2026 18:18
Jakarta: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kerajinan tangan Indonesia memiliki peluang untuk memperluas pasar ekspor melalui beragam produk yang dikembangkan pelaku usaha lokal. Hasil survei terhadap 33 UMKM menunjukkan sejumlah produk kerajinan memiliki potensi untuk dikembangkan ke pasar internasional.
Local Consultant TFO Canada Eko Prasetyo mengatakan, dari 33 UMKM kerajinan tangan yang disurvei, sebanyak 21 UMKM sebenarnya telah memasok produknya kepada eksportir. Meski belum melakukan ekspor secara mandiri, para pelaku usaha tersebut sudah terlibat dalam rantai pasok produk yang dipasarkan ke luar negeri.
"Jadi 21 dari 33 UMKM-nya ini sudah memproduksi untuk eksportir. Jadi mereka punya secara produk, tapi belum secara kemampuan ekspor, sehingga mungkin di sinilah Indonesia yang menyisipkan produknya ke eksportir," ucjar Eko, dalam acara TRISEG Project Launch di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

(Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah)
Menurut Eko, kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi bagi UMKM kerajinan tangan untuk meningkatkan kemampuan ekspor secara mandiri. Dengan produk yang telah dipasok kepada eksportir, pelaku usaha dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan jangkauan pasar mereka ke depannya.
Adapun produk kerajinan tangan yang dikembangkan UMKM dalam survei tersebut cukup beragam, di antaranya produk dekorasi rumah atau home decor, tas dan produk kulit, perhiasan terutama berbahan perak, aksesori, hingga suvenir. Beragamnya jenis produk tersebut menjadi bagian dari pemetaan sektor kerajinan tangan yang dinilai memiliki potensi perdagangan ke depan.
Selain peluang ekspor, hasil survei tersebut juga memperlihatkan besarnya keterlibatan perempuan dalam sektor usaha kerajinan tangan. Dari total 33 UMKM yang menjadi responden, sebanyak 18 di antaranya merupakan UMKM yang dijalankan perempuan.
"Kurang lebih ada 18 UMKM perempuan, artinya lebih dari separuh sebenarnya UMKM handicraft itu didominasi oleh perempuan," ucap Eko.
Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pelaku UMKM kerajinan tangan yang disurvei merupakan perempuan. Meski demikian, kemampuan mengekspor produk secara langsung masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Dari 33 UMKM yang disurvei, baru 10 UMKM yang telah melakukan ekspor, setidaknya satu kali dalam setahun. (Tiaranissa Juliansyah)
"Jadi 21 dari 33 UMKM-nya ini sudah memproduksi untuk eksportir. Jadi mereka punya secara produk, tapi belum secara kemampuan ekspor, sehingga mungkin di sinilah Indonesia yang menyisipkan produknya ke eksportir," ucjar Eko, dalam acara TRISEG Project Launch di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

(Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah)
Menurut Eko, kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi bagi UMKM kerajinan tangan untuk meningkatkan kemampuan ekspor secara mandiri. Dengan produk yang telah dipasok kepada eksportir, pelaku usaha dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan jangkauan pasar mereka ke depannya.
Adapun produk kerajinan tangan yang dikembangkan UMKM dalam survei tersebut cukup beragam, di antaranya produk dekorasi rumah atau home decor, tas dan produk kulit, perhiasan terutama berbahan perak, aksesori, hingga suvenir. Beragamnya jenis produk tersebut menjadi bagian dari pemetaan sektor kerajinan tangan yang dinilai memiliki potensi perdagangan ke depan.
Didominasi perempuan
Selain peluang ekspor, hasil survei tersebut juga memperlihatkan besarnya keterlibatan perempuan dalam sektor usaha kerajinan tangan. Dari total 33 UMKM yang menjadi responden, sebanyak 18 di antaranya merupakan UMKM yang dijalankan perempuan.
"Kurang lebih ada 18 UMKM perempuan, artinya lebih dari separuh sebenarnya UMKM handicraft itu didominasi oleh perempuan," ucap Eko.
Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pelaku UMKM kerajinan tangan yang disurvei merupakan perempuan. Meski demikian, kemampuan mengekspor produk secara langsung masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Dari 33 UMKM yang disurvei, baru 10 UMKM yang telah melakukan ekspor, setidaknya satu kali dalam setahun. (Tiaranissa Juliansyah)