Implementasi PLTS Atap pada fasilitas bangunan pendukung Pupuk Kaltim. Foto: dok Pupuk Kaltim.
PLTS Atap Perkuat Transisi Energi dan Dekarbonisasi Industri
Husen Miftahudin • 12 October 2026 19:59
Jakarta: Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi salah satu upaya untuk mendorong transisi energi dan mengurangi emisi karbon di sektor industri. Integrasi energi baru terbarukan (EBT) ke dalam operasional perusahaan juga membuka peluang peningkatan efisiensi energi sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan PLTS Atap di fasilitas pendukung dan area operasional PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Hingga saat ini, total kapasitas terpasang PLTS Atap perusahaan mencapai 3,8 megawatt peak (MWp), terdiri atas 1,2 MWp pada fase pertama dan 2,6 MWp pada fase kedua.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim Maslani mengatakan pemanfaatan energi surya merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengintegrasikan energi bersih ke dalam operasional industri secara bertahap dan berkelanjutan.
"Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri," ujar Maslani seperti dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 12 Oktober 2026.
Menurut dia, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
Kapasitas PLTS Atap capai 3,8 MWp
Adapun pengembangan PLTS Atap dilakukan secara bertahap di area nonpabrik dan pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG).
Sistem PLTS Atap tersebut memiliki availability factor atau tingkat ketersediaan sebesar 98–98,6 persen, dengan produksi energi mencapai 4.723.458 kilowatt-hour (kWh) per tahun.
"Capaian ini menunjukkan energi surya dapat menjadi bagian dari sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan yang tinggi," lanjut Maslani.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari peta jalan keberlanjutan perusahaan yang mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Strategi keberlanjutan ini berfokus pada tiga pilar utama, yakni efisiensi energi, pengurangan dan penangkapan emisi (emission reduction/capture), serta pemanfaatan energi baru terbarukan.
Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendukung target Second Nationally Determined Contribution (SNDC) sektor industri menuju Net Zero Emission (NZE) 2050.

(Implementasi PLTS Atap pada fasilitas bangunan pendukung Pupuk Kaltim. Foto: dok Pupuk Kaltim)
Tekan emisi karbon dan penggunaan BBM
Implementasi PLTS Atap selama periode 2022–2025 tercatat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 10.702,38 ton CO? ekuivalen. Selain memasok kebutuhan energi fasilitas perusahaan, pemanfaatan energi surya dikembangkan untuk mendukung elektrifikasi transportasi operasional, termasuk penggunaan kendaraan listrik.
Salah satu inisiatifnya dilakukan melalui pengalihan penggunaan bus konvensional menjadi bus listrik yang memanfaatkan energi dari PLTS. Langkah tersebut tercatat menghemat bahan bakar minyak (BBM) sebesar 3.945,46 liter dan menekan emisi hingga 0,45 ton CO?.
Pupuk Kaltim juga berupaya membangun ekosistem energi bersih yang terintegrasi, mulai dari pembangkitan listrik hingga pemanfaatannya untuk operasional dan pengisian daya kendaraan listrik.
"Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik," terang Maslani.
Perluas manfaat energi bersih bagi masyarakat
Pengembangan energi terbarukan juga diarahkan untuk memberikan manfaat sosial melalui pelibatan tenaga kerja lokal dalam konstruksi, berbagi pengetahuan mengenai teknologi surya, serta pelatihan Operation and Maintenance (O&M) bagi mahasiswa. Selain itu, penerapan PLTS di kawasan pesisir Bontang dilakukan untuk mendukung kebutuhan energi permukiman nelayan.
"Dengan demikian, energi tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional industri, tetapi juga membuka peluang peningkatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal," ungkap Maslani.
Dari sisi teknis dan ekonomi, perusahaan turut mengembangkan kolaborasi dengan anak perusahaan dalam grup Pupuk Indonesia yang memiliki Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL). Kolaborasi tersebut dilakukan melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Inisiatif ini disebut menghasilkan penghematan energi sekitar 20 persen, setara dengan 5.815.575 kWh, serta estimasi penghematan biaya operasional tahunan sekitar USD29.800. Efisiensi tersebut didukung pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan operasional dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik.
Pengembangan PLTS Atap tersebut turut mengantarkan Pupuk Kaltim meraih ASEAN Energy Awards 2026 kategori On Grid. Penghargaan diterima Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, di Manila, Filipina, pada 7 Oktober 2026, dalam rangkaian ASEAN Energy Business Forum 2026.
Maslani mengatakan pencapaian tersebut menjadi dorongan bagi perusahaan untuk melanjutkan inovasi dan memperkuat kolaborasi dalam penerapan energi bersih.
"Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa transformasi menuju industri yang lebih hijau membutuhkan konsistensi, inovasi, dan kolaborasi. Pupuk Kaltim akan terus mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan," tutup Maslani.