Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Menguat, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI
Ade Hapsari Lestarini • 28 August 2026 18:37
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat menguat 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.693 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per USD.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menguat ke level Rp17.703 per USD dari sebelumnya Rp17.762 per USD.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi sentimen terhadap arah kebijakan BI setelah Destry Damayanti menegaskan penguatan sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi dan kredibilitas bank sentral.
"Destry juga menekankan pentingnya bauran kebijakan serta pendalaman pasar uang dan valas untuk menjaga stabilitas rupiah," ujar Amru, dilansir Antara, Jumat, 28 Agustus 2026.
Komisi XI DPR RI melalui rapat internal menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031 serta Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) BI terpilih untuk periode yang sama.
Destry akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI pada 25 Juli 2026. Sementara posisi DGS yang sebelumnya ditempati Destry akan diisi oleh Aida S. Budiman.
Dalam proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI, Destry menegaskan BI pada dasarnya mendukung pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang mengamanatkan BI menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.

Destry Damayanti terpilih sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031. Foto: tangkapan layar YouTube Parlemen.
Pasar cermati sentimen domestik dan global
Amru mengatakan investor selanjutnya akan mencermati sejumlah agenda domestik, terutama data inflasi dan perdagangan serta proses penetapan Gubernur BI berikutnya.
"Ke depan, investor akan mencermati sejumlah agenda domestik, terutama data inflasi dan perdagangan, serta perkembangan proses penetapan Gubernur Bank Indonesia berikutnya," ungkap Amru.
Dari sisi global, pergerakan dolar AS masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah rupiah. Indeks dolar AS atau DXY bergerak relatif terbatas di sekitar 99,18. Sementara imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun masih berada di level sekitar 4,68 persen.
Menurut Amru, kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah masih cenderung terbatas.
"Perhatian pasar hari ini tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS," kata dia.
Ia menilai pernyataan yang lebih hawkish berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih dovish dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan.