Masih Terus Diburu Investor, Harga Emas Bakal Tembus USD5.600

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Masih Terus Diburu Investor, Harga Emas Bakal Tembus USD5.600

Husen Miftahudin • 30 January 2026 11:02

Jakarta: Harga emas dunia pada perdagangan hari ini diperkirakan masih bergerak dalam tren menguat seiring meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor kembali mencari aset lindung nilai.

Emas kembali menjadi pilihan utama di tengah dinamika geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter yang cenderung dovish, serta permintaan institusional yang tetap solid. Kondisi tersebut membuat pergerakan XAU/USD tetap berada dalam tekanan bullish meskipun volatilitas pasar masih relatif tinggi.

Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menjelaskan meningkatnya ketegangan global menjadi katalis utama penguatan harga emas. Konflik geopolitik yang berkepanjangan, seperti eskalasi di kawasan Timur Tengah, perang dagang, hingga sanksi ekonomi antarnegara, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke emas sebagai aset safe haven.

"Situasi ini memperkuat posisi emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda," ungkap Andy dikutip dari analisa harian, Jumat, 30 Januari 2026.
 

Baca juga: Harga Emas Dunia Tergelincir setelah Terus-terusan Cetak Rekor Tertinggi
 

Arah suku bunga Fed jadi faktor utama


Dari sisi fundamental, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve juga menjadi faktor pendukung utama. Pasar secara luas memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed akan cenderung lebih dovish pada 2026, dengan peluang penurunan suku bunga yang semakin terbuka.

Kondisi tersebut, jelas Andy, berpotensi menekan imbal hasil obligasi riil, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas kerap menjadi instrumen lindung nilai yang lebih menarik bagi investor global.

Selain itu, permintaan emas melalui Exchange Traded Fund (ETF) tercatat tetap kuat dan bahkan mencetak rekor. ETF emas kini menjadi saluran utama investasi, baik bagi investor institusional maupun ritel, dalam menghadapi risiko makroekonomi dan ketidakstabilan finansial.

"Permintaan yang kuat dari ETF ini menciptakan fondasi permintaan yang solid di luar kebutuhan industri maupun perhiasan, sehingga menopang harga emas tetap berada di level tinggi," papar dia.

Andy juga menyoroti tren diversifikasi portofolio global yang semakin masif. Banyak institusi besar, termasuk bank sentral, mulai mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS dan meningkatkan alokasi pada emas sebagai aset penyimpan nilai (store of value). Langkah ini turut memperkuat prospek jangka menengah hingga panjang harga emas, seiring meningkatnya peran emas dalam cadangan devisa global.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Bakal tembus USD5.600


Secara teknikal, Andy memproyeksikan jika tekanan tren bullish masih berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan hingga mendekati level USD5.600 pada pekan depan. Area tersebut menjadi target kenaikan berikutnya yang berpotensi diuji apabila sentimen positif global tetap terjaga dan tidak ada kejutan dari kebijakan moneter utama.

Namun demikian, investor tetap perlu mewaspadai skenario alternatif. Jika terjadi pembalikan arah (reversal) dan harga menembus key point di level USD4.565, maka tekanan jual berpotensi meningkat. Dalam skenario ini, emas berisiko mengalami penurunan lanjutan menuju area USD4.270 pada pekan depan.

"Risiko ini dapat muncul apabila The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish atau terjadi kenaikan imbal hasil obligasi AS yang memperkuat dolar," papar dia.

Dengan mempertimbangkan faktor fundamental dan teknikal tersebut, pergerakan harga emas ke depan diperkirakan tetap atraktif namun sarat volatilitas. "Investor disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan bank sentral, serta level teknikal kunci guna mengoptimalkan strategi perdagangan emas," ucap Andy.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)