LSPR Teatro Raih Grup Terbaik III Festival Teater Kampus Jakarta 2026 lewat 'Dunia Dalam Sepotong Naskah'

LSPR Teatro meraih Grup Terbaik III dan Aktor Terbaik dalam Festival Teater Kampus Jakarta 2026. (Foto: Ist)

LSPR Teatro Raih Grup Terbaik III Festival Teater Kampus Jakarta 2026 lewat 'Dunia Dalam Sepotong Naskah'

Patrick Pinaria • 8 September 2026 11:58

Jakarta: LSPR Teatro menorehkan prestasi dalam Festival Teater Kampus Jakarta (FTKJ) 2026 melalui pertunjukan musikal 'Dunia Dalam Sepotong Naskah'. Pada Malam Anugerah FTKJ 2026 yang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026, LSPR Teatro meraih penghargaan Grup Terbaik III dari 15 grand finalis.

Selain penghargaan tersebut, Aktor Terbaik FTKJ 2026 diraih Fernleigh Ansel, mahasiswa kelas 29PRCG-INT’L. LSPR Teatro juga masuk jajaran lima besar dalam enam kategori nominasi, yakni Sutradara Terbaik, Penata Cahaya Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penata Panggung Terbaik, serta Penata Kostum & Rias Terbaik.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Annual Production ke-24 LSPR Teatro melalui karya musikal orisinal 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' karya Rizki Ramadhana. Pertunjukan tersebut sebelumnya dipentaskan pada Senin, 24 Agustus 2026 di Amani Palladium Theater, LSPR Transpark Bekasi.

'Dunia Dalam Sepotong Naskah' mengangkat tema kreativitas, identitas, serta batas antara realitas dan imajinasi. Cerita berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang terjadi ketika seorang penulis kehilangan kendali atas tokoh-tokoh yang diciptakannya sendiri.


LSPR Teatro menampilkan pertunjukan musikal 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' dalam Festival Teater Kampus Jakarta 2026. (Foto: Ist)

Pertunjukan ini mengisahkan seorang penulis perfeksionis yang mengalami kebuntuan kreatif. Situasi berubah ketika tokoh-tokoh dalam naskahnya seolah hidup dan mulai mempertanyakan keberadaan, serta keputusan sang pencipta.

Konflik tersebut kemudian membawa cerita melampaui hubungan antara seorang penulis dan karakter ciptaannya. Melalui perjalanan para tokohnya, penonton diajak melihat kembali hubungan antara pencipta dan karya, ambisi untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna, serta pertanyaan mengenai identitas dan kebebasan ketika sebuah karya mulai menemukan suaranya sendiri.

Pertunjukan dikemas dalam format teater musikal dengan memadukan akting, musik, vokal, koreografi, tata artistik, kostum, pencahayaan, dan berbagai elemen visual. Perpaduan tersebut digunakan untuk membawa penonton memasuki dunia cerita ketika batas antara kenyataan dan imajinasi perlahan menjadi semakin tipis.
 


Tantangan untuk berani melangkah lebih jauh

Keikutsertaan LSPR Teatro dalam FTKJ 2026 bermula dari sebuah tantangan untuk berani membawa karya mereka ke ruang kompetisi. Kepala Departemen Kemahasiswaan LSPR Institute, Greta Mulyosantoso, menjadi salah satu pihak yang mendorong LSPR Teatro untuk mengambil kesempatan tersebut.

Bagi Greta, tantangan terbesar yang harus dihadapi para anggota LSPR Teatro bukanlah kelompok teater lain, melainkan keraguan yang ada di dalam diri mereka sendiri.

"Ketika pertama kali diberikan tantangan untuk mengikuti kompetisi ini, saya melihat masih ada keraguan dalam diri mereka terhadap kemampuan yang mereka miliki. Namun, pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri. Mereka memilih untuk percaya, berproses, dan terus berjuang. Hari ini, kita melihat buah dari kegigihan dan kerja kolektif mereka. Penghargaan ini bukan hanya tentang piala, tetapi tentang keberanian mereka untuk melangkah lebih jauh dari apa yang sebelumnya mereka pikir mampu mereka lakukan," ujar Greta.

Greta menilai pencapaian tersebut juga menggambarkan bagaimana proses berkesenian dapat membentuk karakter mahasiswa. Setiap anggota memiliki peran dan tantangan masing-masing, sementara keberhasilan membutuhkan kemampuan seluruh tim untuk bekerja sebagai satu kesatuan.

"Saya sangat mengapresiasi seluruh pemain, sutradara, tim produksi, dan semua pihak yang berada di balik pertunjukan ini. Mereka membuktikan bahwa ketika talenta dipertemukan dengan kegigihan, disiplin, dan kerja kolektif, hasilnya dapat melampaui ekspektasi. Semoga pencapaian ini menjadi pengingat bagi mereka bahwa terkadang batas terbesar bukanlah kemampuan kita, tetapi keberanian kita untuk mencoba," tambahnya.
 

Dari panggung kampus ke panggung festival

Di balik pertunjukan tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan pembacaan naskah, pendalaman karakter, latihan vokal dan koreografi, technical rehearsal, hingga pengembangan musik, tata artistik, kostum, pencahayaan, dan berbagai elemen produksi.


Salah satu adegan dalam pertunjukan musikal 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' karya Rizki Ramadhana. (Foto: Ist)

Proses kolaboratif tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan 'Dunia Dalam Sepotong Naskah'. Mahasiswa tidak hanya belajar tampil di atas panggung, tetapi juga memahami bahwa sebuah pertunjukan tidak dibangun oleh pemain saja.
 
Setiap produksi membutuhkan komunikasi, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, serta kolaborasi berbagai peran untuk menerjemahkan sebuah gagasan menjadi karya yang dapat dinikmati publik.

Sebagai karya orisinal Rizki Ramadhana, 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' memperlihatkan perjalanan sebuah ide dari halaman naskah menuju panggung. Cerita tersebut berkembang melalui interpretasi pemain, musik, gerak, tata panggung, kostum, pencahayaan, dan berbagai elemen produksi hingga membentuk pengalaman musikal yang utuh.

Azalia Fathin, selaku sutradara yang terlibat dalam proses kreatif produksi, sebelumnya menyampaikan bahwa pertunjukan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman hiburan, tetapi juga meninggalkan ruang bagi penonton untuk merefleksikan pesan yang dibawa cerita.

"Sebagai sutradara, saya ingin menghadirkan sebuah pengalaman teater yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton berdialog tentang kreativitas, identitas, dan kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi. Dalam prosesnya, kami juga ingin setiap anggota yang terlibat dapat belajar dan berkembang melalui proses penciptaan karya ini. Saya berharap Musikal Dunia Dalam Sepotong Naskah mampu menjadi pengalaman yang relevan bagi generasi saat ini, sekaligus menunjukkan bahwa teater musikal tetap menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang dekat dengan kehidupan kita," ujar Azalia Fathin.


LSPR Teatro memadukan akting, musik, gerak, tata panggung, kostum, dan pencahayaan dalam 'Dunia Dalam Sepotong Naskah'. (Foto: Ist)

Kini, apresiasi yang diterima di FTKJ 2026 menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Penghargaan Grup Terbaik III dan Aktor Terbaik, serta masuknya LSPR Teatro dalam jajaran lima besar berbagai kategori artistik, menunjukkan bahwa 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' mendapatkan apresiasi tidak hanya dari sisi penampilan pemain, tetapi juga dari berbagai elemen artistik dan produksi yang membangun pertunjukan secara utuh.

Melalui 'Dunia Dalam Sepotong Naskah' LSPR Teatro kembali menunjukkan bahwa panggung bukan hanya tempat sebuah cerita dimainkan, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen, berkolaborasi, menemukan suara dan identitas, serta memiliki keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Pada akhirnya, kisah ini membawa penonton kembali pada pertanyaan yang menjadi jantung pertunjukan: ketika sebuah karya telah menemukan suaranya sendiri, masihkah sang pencipta menjadi satu-satunya yang berhak menentukan bagaimana ceritanya berakhir?

(Patrick Pinaria)