Ilustrasi. Foto: dok MI.
Dolar AS Menguat Tipis di Hadapan Mata Uang Utama Dunia
Husen Miftahudin • 8 January 2026 08:12
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis terhadap sejumlah mata uang utama dunia, di tengah posisi pasar melihat lowongan kerja di AS turun lebih dari yang diperkirakan pada November, sementara perekrutan tenaga kerja melambat. Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS itu menunjukkan permintaan tenaga kerja terus menurun.
Mengutip Xinhua, Kamis, 8 Januari 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,11 persen menjadi 98,683.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1682 dari USD1,1690 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3464 dari USD1,3502 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 156,74 yen Jepang, lebih tinggi dari 156,63 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,7975 franc Swiss dari 0,7954 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga naik menjadi 1,3845 dolar Kanada dari 1,3805 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 9,1819 krona Swedia dari 9,1966 krona Swedia.
| Baca juga: Dolar AS 'Gebuk' Mata Uang Utama Dunia, Euro hingga Pound Sterling Bertekuk Lutut |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Sentimen pergerakan dolar AS
Pergerakan mata uang dolar AS dipengaruhi oleh sentimen data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas sektor jasa AS secara tak terduga meningkat pada Desember. Sementara penggajian swasta pulih kurang dari yang diperkirakan pada Desember, menurut laporan ketenagakerjaan nasional ADP.
Di sisi lain, harga minyak turun pada Rabu dan Tiongkok mengecam AS sebagai negara yang suka menindas setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengatakan telah membujuk Venezuela untuk mengalihkan pasokan dari Beijing.
Euro sedikit turun setelah jatuh pada hari sebelumnya, karena inflasi Jerman mereda lebih dari yang diperkirakan pada Desember, mendorong para pedagang untuk sedikit mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga di awal 2027.
Sejak musim panas lalu, pasar telah memperkirakan suku bunga kebijakan akan tetap stabil hingga 2026, sementara Bank Sentral Eropa diharapkan memperketat kebijakan pada 2027 karena tekanan inflasi meningkat akibat stimulus fiskal Jerman.
Pasar juga memelototi tindakan Tiongkok yang melarang ekspor barang-barang dwiguna ke Jepang yang dapat digunakan untuk tujuan militer. Hal ini menandai reaksi terbaru Beijing terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang Taiwan pada awal November.
Beberapa analis mengatakan peningkatan ketegangan antara Tiongkok dan Jepang dapat memberi Bank Sentral Jepang alasan untuk berhati-hati dalam menaikkan suku bunga lagi.