Antisipasi Kemarau Panjang, Petani di Kalsel Dilarang Bakar Lahan

Kebakaran hutan dan lahan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. MI

Antisipasi Kemarau Panjang, Petani di Kalsel Dilarang Bakar Lahan

Silvana Febiari • 6 April 2026 22:58

Banjarbaru: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melarang petani membuka lahan dengan cara membakar. Larangan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi tahun ini.

Kepala DPKP Kalsel Syamsir Rahman mengatakan larangan tersebut menjadi upaya utama untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi saat musim kering.

“Berdasarkan data BMKG, fenomena El Nino berpotensi memicu kemarau lebih panjang dari biasanya sehingga berdampak pada kondisi lahan pertanian di Kalimantan Selatan,” ujarnya, dilansir dari Antara, Senin, 6 April 2026. 
 


Ia menekankan fenomena El Nino akan menyebabkan kemarau lebih panjang yang berdampak pada kondisi lahan pertanian. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi dari para petani.

“Pembukaan lahan dengan cara membakar tidak lagi diperbolehkan karena berisiko memicu kebakaran yang dapat meluas, terutama di tengah kondisi cuaca kering,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengimbau petani untuk membersihkan lahan dari rumput kering. Tujuannya untuk mengurangi potensi bahan bakar alami yang dapat mempercepat penyebaran api.


Kepala DPKP Kalsel Syamsir Rahman (kiri). ANTARA/HO-Pemprov Kalsel


Dalam masa panen, Syamsir meminta petani memanen tanaman hingga ke bagian bawah menggunakan alat panen modern seperti combine harvester. Langkah ini dilakukan agar sisa batang atau ilalang kering yang mudah terbakar dapat diminimalkan.

“Kalau panen sampai bawah, maka sisa-sisa tanaman yang berpotensi terbakar bisa diminimalisir,” tuturnya.

DPKP Kalsel juga mendorong petani menyiapkan langkah mitigasi lain, seperti mengomposkan sisa tanaman. Sumur bor juga diharapkan kembali diaktifkan untuk memastikan ketersediaan air selama musim kemarau.

Ia menilai peran pemerintah kabupaten dan kota penting dalam mendukung upaya tersebut. Salah satunya melalui optimalisasi brigade pangan yang telah dilengkapi peralatan di lapangan untuk penanganan dini.

Dia menekankan pentingnya kewaspadaan bersama melalui sistem keamanan lingkungan. Sinergi dengan aparat seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas diperlukan untuk mengantisipasi potensi kebakaran.

“Yang terpenting adalah saling menjaga dan saling mengingatkan. Ini menjadi kunci utama kita dalam menghadapi musim kemarau,” ujar Syamsir.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)