Ilustrasi. Foto: Dok MI
Harga Emas Naik 1% usai Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda
Eko Nordiansyah • 13 August 2026 08:35
Chicago: Harga emas menguat sekitar satu persen pada Rabu, 12 Agustus 2026, setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada Juli sesuai dengan perkiraan. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Namun, penguatan emas masih tertahan ketidakpastian terkait perkembangan konflik di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dikutip dari Investing, Kamis, 13 Agustus 2026, harga emas spot naik 1,1 persen menjadi USD4.416,15 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 0,8 persen menjadi USD4.476,35 per ons.
Inflasi AS sesuai perkiraan
Pelaku pasar logam mulia mencermati laporan indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli guna mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi utama naik 0,1 persen secara bulanan (mtm) pada Juli setelah turun 0,4 persen pada Juni. Secara tahunan (yoy), inflasi melambat menjadi 3,4 persen dari 3,5 perseb.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi meningkat 0,2 persen secara bulanan setelah stagnan pada Juni. Secara tahunan, inflasi inti melambat menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen.
.jpg)
(Ilustrasi emas. Foto: Freepik)
Data CPI akan disusul rilis indeks harga produsen (PPI) AS untuk Juli pada Kamis. Meski menjadi perhatian pasar, The Fed menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai salah satu indikator utama dalam mengukur inflasi. Komponen CPI dan PPI turut menjadi input dalam perhitungan PCE.
Data inflasi yang sesuai perkiraan memberikan ruang bagi Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mempertahankan suku bunga, terutama setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Ekspektasi tersebut tercermin dari CME FedWatch. Probabilitas FOMC mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi 60 persen setelah rilis data CPI, dari sebelumnya 54 persen.
Bank Sentral Tiongkok tambah cadangan emas
Selain faktor suku bunga, permintaan dari bank sentral turut menopang harga emas.Bank Sentral Tiongkok atau People's Bank of China (PBoC) meningkatkan cadangan emas selama 21 bulan berturut-turut pada Juli. Cadangan emas bertambah sekitar 640 ribu troy ounce sehingga total kepemilikan mencapai 76,08 juta ounce.
Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) emas di Tiongkok juga masih mencatat minat pembelian. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan institusional terhadap emas masih cukup kuat.
Analis Pasar Senior IG Tony Sycamore mengatakan emas saat ini menghadapi area resistance di sekitar USD4.460 per ons. Sementara itu, rata-rata pergerakan 200 hari berada di kisaran USD4.495.
Menurut dia, emas perlu menembus dan bertahan di atas kedua level tersebut untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut menuju USD5.000 per ons.