Kilau Harga Emas Dunia Dicuri Dolar AS

Ilustrasi emas batangan. Foto: en.trend.az

Kilau Harga Emas Dunia Dicuri Dolar AS

Husen Miftahudin • 21 July 2026 08:34

Chicago: Harga emas dunia ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan Senin waktu setempat seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan logam mulia juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus menjadi perhatian pelaku pasar.
 
Mengutip Investing.com, Selasa, 21 Juli 2026, harga emas spot turun 0,2 persen menjadi USD4.008,88 per ons, sedangkan emas berjangka melemah 0,1 persen ke USD4.013,22 per ons. Pelemahan tersebut terjadi setelah harga emas mencatat koreksi lebih dari dua persen pada pekan sebelumnya.
 
Tekanan terhadap emas dipicu penguatan dolar AS yang didorong meningkatnya permintaan aset aman. Sentimen itu muncul setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
 
Washington melanjutkan operasi militer terhadap Iran untuk hari ke-10 berturut-turut. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan "membayar" atas tewasnya tiga personel militer AS.
 
Pelaku pasar memperkirakan perkembangan konflik di Timur Tengah akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang pekan ini, mengingat minimnya agenda data ekonomi Amerika Serikat dan dimulainya periode blackout Federal Reserve menjelang rapat kebijakan.
 

 

Konflik AS-Iran kian memanas

 
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah kedua negara saling melontarkan pernyataan keras di tengah berlanjutnya aksi militer. Komando Pusat AS melaporkan tiga personel militernya tewas akibat serangan Iran pada Minggu.
 
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu! Arahan ini telah disampaikan kepada Menteri Perang, Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan, Daniel Caine, dan setiap Pemimpin di Militer," tulis Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya.
 
Di sisi lain, Kantor Berita Fars melaporkan Iran menangguhkan komitmennya terhadap perjanjian perdamaian sementara dengan Amerika Serikat. Keputusan tersebut dikutip dari pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi.
 
Media pemerintah Iran juga melaporkan Presiden Masoud Pezeshkian menyebut negaranya kini berada dalam "perang skala penuh" dengan Amerika Serikat. Sementara itu, isu penguasaan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar menanti arah kebijakan bank sentral

 
Selain mencermati perkembangan geopolitik, investor juga menunggu sinyal kebijakan moneter dari bank-bank sentral utama.
 
Pekan lalu, data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) menunjukkan moderasi, sementara survei Universitas Michigan mencatat sentimen konsumen Juli mencapai level tertinggi sejak Februari.
 
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada akhir Juli turun menjadi sekitar 16 persen, dibandingkan hampir 42 persen pada awal bulan.
 
Namun, kenaikan kembali harga minyak akibat memburuknya konflik AS-Iran memunculkan kekhawatiran inflasi dapat kembali meningkat.
 
Sejumlah pejabat Federal Reserve, termasuk Kevin Warsh dan Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan, menilai tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda sehingga kebijakan moneter yang ketat masih diperlukan.
 
Di tengah periode blackout Federal Reserve, perhatian pasar kini beralih ke keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis. Pelaku pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga acuannya sambil tetap memberikan sinyal kebijakan yang bergantung pada perkembangan inflasi dan data ekonomi.

(Husen Miftahudin)