Tanah Abang Tak Bisa Hidup Tanpa Parkir Liar

Parkir liar di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: Metro TV/Enrich Samuel.

Cerita Juru Parkir Liar

Tanah Abang Tak Bisa Hidup Tanpa Parkir Liar

Enrich Samuel • 19 February 2026 17:06

Jakarta: Di balik riuh pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang, terdapat denyut nadi ekonomi yang tidak tersentuh hukum formal yaitu parkir liar. Meski penertiban dilakukan silih berganti oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, praktik ini bagaikan mati satu tumbuh seribu, menjadi tumpuan hidup bagi banyak warga lokal seperti Toni (nama samaran).

“Saya mulai 2017. Baru lulus sekolah langsung markir, nyiapin payung. Ya buat nyari hidup saja, buat pegang rokok, ngopi. Lumayan,” kata Toni saat ditemui Metrotvnews.com di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Februari 2026.
 


Toni menceritakan bahwa razia petugas bukanlah hal yang menakutkan bagi kelompoknya. Menurutnya, koordinasi di lapangan sangat kuat sehingga mereka kerap kali selangkah lebih maju dibandingkan petugas.

“Memang suka ada razia, cuma kita biasanya dikasih tahu dulu. Nanti ya operasional lagi. Intinya kita atur biar nggak macet saja. Yang penting tertib,” ujarnya sambil terus memandu kendaraan yang menepi.

Meski pemerintah gencar memasang mesin parkir elektronik dan menyediakan gedung parkir resmi, Toni merasa hal tersebut tidak mengusik "lahan" basahnya. Baginya, setiap jengkel aspal di Tanah Abang sudah memiliki tuannya sendiri dengan sistem bagi hasil yang rapi.

“Enggak berpengaruh sih (parkir resmi). Biasa saja. Mau ada parkir resmi juga ya kita tetap markir. Pasti ada kepala. Tiap parkir di sini ada kepalanya. Hasilnya bagi dua,” ungkap Toni.

Penghasilan dari bisnis "abu-abu" ini memang menggiurkan. Di hari biasa, seorang juru parkir (jukir) bisa membawa pulang lebih dari Rp200 ribu. Angka ini melonjak tajam saat momentum menjelang Lebaran. 


Seorang juru parkir liar tampak emosi saat diamankan oleh petugas Reserse Kriminal Polsek Metro Tanah Abang di kawasan Blok G. Foto: Metro TV/Aris Setya.

“Kalau lagi ramai bisa Rp300 ribu bersih. Kalau hari biasa setengahnya,” tutur dia.

Mengenai isu pungli oleh aparat, Toni mengaku tidak ada tarikan wajib yang memotong pendapatannya secara sistematis. Ia menyebut hubungan dengan oknum di lapangan lebih bersifat "kekeluargaan". 

“Enggak ada yang ngambil penghasilan. Paling cuma minta beli kopi, rokok. Kalau sampai ambil hasil, itu beda cerita. Ini (dikelola) Akamsi (anak kampung sini) wilayah sini saja,” ujar Toni.

Toni juga sempat menyinggung soal viralnya jukir liar yang mematok harga selangit di Blok G hingga berujung penangkapan. Ia mengklaim kelompoknya masih memiliki "etika" dalam mematok tarif kepada pengunjung.

"Itu oknum bang, kita di sini pasti kasih harga enggak akan sampai segitu. Motor mentok di 10 ribu dan mobil 20 ribu paling," tegasnya.

Bagi Toni dan rekan-rekannya, Tanah Abang adalah sebuah ekosistem unik yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pedagang kaki lima dan parkir liar. Baginya, sterilisasi justru akan membunuh karakter kawasan tersebut.

“Menurut saya semua sama saja, siapa pun pemimpinnya. Paling nanti sepi, habis itu rame lagi. Tanah Abang enggak bisa kalau enggak ada parkir liar atau pedagang kaki lima. Kalau steril malah sepi, kayak bukan Tanah Abang,” ucap dia sembari kembali meniup peluit, menyambut pelanggan berikutnya yang mencari celah di bahu jalan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)