Legislator Tekankan Arti Penting Pengabdian Petugas Karhutla

Water bombing untuk penanganan karhutla. Foto: ANTARA/Nova Wahyudi.

Legislator Tekankan Arti Penting Pengabdian Petugas Karhutla

Fachri Audhia Hafiez • 7 November 2026 16:39

Jakarta: Tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dinilai sudah tepat diberikan apresiasi. Karena mereka telah mengabdi demi keselamatan masyarakat luas.

“Dukacita yang mendalam atas gugurnya para prajurit kita saat tengah melakukan misi pemadaman karhutla. Mereka perlu diapresiasi yang layak oleh negara,” kata anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 7 November 2026.
 


Daniel menilai insiden ini menjadi pengingat tingginya risiko keselamatan. Sekaligus besarnya biaya (cost) sosial dan lingkungan yang ditimbulkan akibat bencana karhutla. 

“Pengabdian mereka memiliki arti penting dalam melindungi kawasan hutan, habitat satwa, permukiman, dan kesehatan warga dari dampak kebakaran serta asap,” ucap Daniel.

Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum berakhir dan kian meluas ke wilayah lain, termasuk Papua Selatan. Berdasarkan data BNPB dan MapBiomas Indonesia per Agustus 2026, kebakaran di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, telah mencapai sekitar 8.708 hektare dan mengancam ekosistem konservasi serta ruang hidup masyarakat adat setempat.

“Pemadaman harus berjalan bersamaan dengan pencegahan, pengawasan aktivitas pembukaan lahan, edukasi masyarakat, dan penelusuran penyebab kebakaran,” ucap Daniel.

Upacara pelepasan jenazah prajurit TNI korban jatuh helikopter Mi-17V5 menuju pesawat untuk diberangkatkan ke kampung halaman melalui Bandara Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalteng, Kamis, 5 November 2026. Foto: ANTARA/Edy Faisal.

Selain itu, Daniel menyoroti kondisi lahan gambut di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang rawan memicu timbulnya titik api baru akibat bara di bawah permukaan tanah. Dia mengingatkan agar penanganan tidak sebatas mengandalkan pemadaman permukaan.

“Penanganan karhutla tidak seharusnya berhenti pada pemadaman, tetapi juga menyentuh akar persoalan, perlindungan ekosistem, dan pencegahan kejadian serupa. Termasuk dukungan pemulihan bagi masyarakat terdampak hingga pascakarhutla nanti,” kata Daniel.

Helikopter Mi-17V5 milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) mengalami kecelakaan saat melakukan pengambilan air (water bombing) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Rabu, 4 November 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan tiga prajurit gugur dan telah dianugerahi Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB), yakni Letkol Cpn (Anm) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anm) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio, dan Sertu (Anm) Heri Prasetyo. Sementara lima korban luka lainnya masih menjalani perawatan medis.

(Fachri Audhia Hafiez)