Ilustrasi freepik
7 Makanan Wajib Saat Imlek dan Makna Simboliknya
Putri Purnama Sari • 2 February 2026 19:33
Jakarta: Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya identik dengan warna merah, lampion, dan angpao, tetapi juga beragam hidangan khas yang sarat makna.
Dalam tradisi Tionghoa, makna keberuntungan dari hidangan Imlek sering kali berkaitan dengan pelafalan nama makanan maupun bentuk penyajiannya.
Salah satu contohnya adalah ikan. Dalam bahasa Mandarin, ikan (yu) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata “kelebihan” atau “surplus”. Tak heran jika ikan menjadi hidangan yang hampir selalu hadir saat makan malam Tahun Baru Imlek.
Ikan biasanya disajikan dalam keadaan utuh sebagai lambang kelimpahan di tahun yang akan datang, bahkan sering kali sebagian dibiarkan tidak dimakan sebagai simbol kemakmuran yang berkelanjutan.
Hidangan Wajib saat Imlek dan Maknanya
Berikut sejumlah hidangan yang biasanya tersaji di meja makan saat perayaan Tahun Baru Imlek beserta maknanya:1. Pangsit
Bentuk pangsit menyerupai batangan emas pada zaman Tiongkok kuno. Oleh karena itu, pangsit dianggap sebagai simbol kekayaan. Proses pembuatannya juga kerap menjadi aktivitas keluarga yang mempererat hubungan antar anggota.
2. Ikan
Dalam bahasa Mandarin, kata untuk ikan (yu) memiliki pelafalan yang mirip dengan istilah “kelebihan”. Dalam tradisi makan malam Tahun Baru Imlek, ikan menjadi hidangan penting.
Menjelang pergantian tahun, masyarakat Tionghoa berharap memiliki lebih banyak rezeki, karena mereka percaya bahwa memiliki tabungan akan membawa kelimpahan di tahun mendatang.
3. Ayam Utuh
Ayam memiliki pelafalan yang mirip dengan kata (ji), yang berarti keberuntungan dan kemakmuran. Ayam biasanya disajikan secara utuh, lengkap dengan kepala dan kaki, sebagai simbol persatuan dan keutuhan, serta melambangkan awal dan akhir yang baik dalam satu tahun.
Ayam umumnya direbus atau dipanggang dengan bumbu sederhana seperti jahe atau kecap. Secara tradisional, ayam utuh terlebih dahulu dipersembahkan kepada leluhur dan dewa untuk memohon berkah dan perlindungan.
Sementara itu, bagian kaki ayam biasanya dimakan oleh pencari nafkah keluarga karena diyakini dapat membantu mereka “merebut” kekayaan, mengingat kata “merebut” terdengar serupa dengan “cakar” ayam.
Baca Juga :
4. Kue Beras Ketan
Kue beras ketan merupakan sajian yang dipercaya membawa keberuntungan dan biasa dikonsumsi pada malam Tahun Baru Imlek. Dalam bahasa Mandarin, penyebutannya terdengar seperti ungkapan “semakin tinggi dari tahun ke tahun”.
Bagi masyarakat Tionghoa, kue ini melambangkan peningkatan posisi, kemajuan usaha, serta kehidupan yang semakin baik secara keseluruhan.
5. Mi Panjang

Ilustrasi pexels
Mi panjang melambangkan harapan akan umur panjang. Panjang mi dan penyajiannya yang utuh merepresentasikan kehidupan orang yang menyantapnya. Mi ini umumnya lebih panjang dari mi biasa dan tidak dipotong saat disajikan.
6. Udang dan Lumpia
Udang merupakan hidangan khas Imlek yang melambangkan keceriaan, kebahagiaan, dan keberuntungan, karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin terdengar seperti suara tawa. Sementara itu, lumpia dimaknai sebagai simbol kekayaan, berkat warnanya yang keemasan dan bentuknya yang menyerupai batangan emas.
7. Buah-buahan
Beberapa jenis buah yang umum disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek antara lain jeruk mandarin, jeruk, dan pomelo. Buah-buahan ini dipilih karena bentuknya yang bulat serta warna kuning keemasan yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Selain itu, bunyi penyebutan namanya dipercaya membawa keberuntungan.
Mengonsumsi jeruk mandarin dan jeruk diyakini dapat mendatangkan keberuntungan dan kesuksesan, baik dari cara pengucapan maupun penulisannya.
Dalam bahasa Mandarin, kata untuk jeruk (cheng) memiliki pelafalan yang sama dengan kata “kesuksesan”. Salah satu karakter untuk jeruk mandarin (ju) juga mengandung makna keberuntungan (ji).
Di balik kemeriahan perayaan Imlek, kehadiran berbagai hidangan ini bukan sekadar pelengkap meja makan. Setiap makanan mengandung simbol dan harapan akan keberuntungan. Pemilihan wadah segi delapan untuk menyajikan manisan pun bukan tanpa makna.
Dalam budaya Tiongkok, angka delapan diyakini melambangkan keabadian, sehingga melambangkan harapan akan kebahagiaan dan kemanisan yang terus berlanjut di tahun mendatang.
(Jessica Nur Faddilah)