Safriady adalah pemerhati isu strategis. Foto: Dok/Istimewa
Petrodolar dan De-Dolarisasi di Selat Hormuz, Retakan dalam Arsitektur Lama
6 April 2026 13:22
Oleh: Safriady*
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran sempit di antara Teluk Persia dan Laut Arab. Ia adalah simpul vital dalam arsitektur energi global sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan ini setiap hari. Dalam kerangka geopolitik energi, Selat Hormuz adalah “katup tekanan” yang menghubungkan stabilitas regional dengan sistem moneter internasional. Di titik inilah konsep petrodolar dan wacana de-dolarisasi bertemu, bernegosiasi, dan mulai menunjukkan retakan.
Tulisan ini mencoba untuk mengurai keterkaitan struktural antara dominasi petrodolar dan dinamika de-dolarisasi yang semakin menguat, dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai titik observasi utama. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana kontrol atas jalur energi strategis tidak hanya menentukan stabilitas pasokan minyak global, tetapi juga memengaruhi arsitektur moneter internasional yang selama beberapa dekade bertumpu pada dolar Amerika Serikat.
Petrodolar sebagai Pilar Tatanan Lama
Sistem petrodolar lahir dari kesepakatan strategis antara Amerika Serikat dan negara-negara produsen minyak utama pada dekade 1970-an. Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods, minyak adalah komoditas paling vital dalam ekonomi industry ditetapkan untuk diperdagangkan dalam dolar AS. Konsekuensinya jelas yaitu permintaan global terhadap dolar tetap tinggi, menciptakan “permintaan artifisial” yang menopang dominasi mata uang tersebut dalam perdagangan internasional.
Selat Hormuz memainkan peran sentral dalam mempertahankan sistem ini. Sebagian besar ekspor minyak dari Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengalir melalui jalur ini dan sebagian besar masih dihargai dalam dolar. Dengan kata lain, setiap kapal tanker yang melintasi Hormuz tidak hanya membawa minyak, tetapi juga memperkuat sirkulasi dolar dalam ekonomi global.
Namun, stabilitas sistem ini sangat bergantung pada dua faktor antara lain keamanan jalur pelayaran dan kepercayaan terhadap dolar sebagai mata uang cadangan. Ketika salah satu terganggu, maka seluruh struktur mulai goyah.
De-Dolarisasi: Narasi Alternatif yang Menguat
Dalam dua dekade terakhir, muncul tren yang semakin nyata yaitu upaya berbagai negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Fenomena ini dikenal sebagai de-dolarisasi. Negara-negara seperti China, Rusia, dan Iran mulai mendorong penggunaan mata uang lokal atau alternatif dalam perdagangan energi.
China, misalnya, telah memperkenalkan kontrak minyak berdenominasi yuan di Shanghai. Rusia, pasca sanksi Barat, mempercepat transaksi energi menggunakan rubel dan yuan. Iran yang lama berada di bawah tekanan sanksi telah bereksperimen dengan berbagai skema barter dan penggunaan mata uang non-dolar.
Kini Selat Hormuz menjadi laboratorium nyata dari perubahan ini. Ketika ketegangan meningkat, baik akibat konflik militer, sabotase tanker, maupun ancaman penutupan jalur sejumlah negara-negara mulai mencari mekanisme pembayaran yang lebih fleksibel dan tidak bergantung pada sistem keuangan Barat seperti SWIFT. Di sinilah de-dolarisasi menemukan momentumnya.
Geopolitik Ketegangan dan Risiko Sistemik
Ketegangan di Selat Hormuz bukan fenomena baru, tetapi intensitasnya meningkat dalam konteks rivalitas global saat ini. Kehadiran militer Amerika Serikat dan sekutunya di satu sisi, serta manuver Iran di sisi lain, menciptakan dinamika keamanan yang rapuh.
Setiap insiden baik itu penyitaan tanker, serangan drone, atau latihan militer memiliki implikasi langsung terhadap harga minyak dan stabilitas pasar. Namun, yang lebih penting adalah dampaknya terhadap persepsi risiko dalam sistem moneter global. Ketika jalur distribusi energi terganggu, kepercayaan terhadap mekanisme pembayaran yang ada juga ikut tergerus.
Dalam konteks ini, de-dolarisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi mitigasi risiko geopolitik. Negara-negara mulai menyadari bahwa ketergantungan pada satu mata uang terutama yang terkait erat dengan kekuatan politik tertentu dapat menjadi kerentanan strategis.
Fragmentasi atau Transformasi?
Pertanyaan kunci yang muncul adalah apakah dunia sedang menuju fragmentasi sistem moneter, atau justru transformasi menuju tatanan yang lebih multipolar? Indikasi saat ini menunjukkan keduanya. Di satu sisi, dominasi dolar masih sangat kuat sekitar 58–60 persen cadangan devisa global masih disimpan dalam dolar menurut data IMF. Di sisi lain, peningkatan transaksi bilateral non-dolar dan inisiatif seperti BRICS+ menunjukkan adanya dorongan nyata menuju diversifikasi.
Selat Hormuz, dalam hal ini, menjadi barometer. Jika perdagangan energi yang melewati jalur ini mulai secara signifikan beralih ke mata uang lain, maka itu akan menjadi sinyal kuat bahwa era petrodolar mulai memasuki fase transisi. Namun, transisi ini tidak akan terjadi secara tiba-tiba. Infrastruktur keuangan global, likuiditas pasar, dan kepercayaan institusional masih sangat berpihak pada dolar. De-dolarisasi, untuk saat ini, lebih tepat dipahami sebagai proses gradual bukan revolusi instan.
Hormuz sebagai Titik Uji
Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak, tetapi juga cermin dari dinamika kekuatan global. Di sinilah kepentingan energi, keamanan, dan moneter bertemu dalam satu ruang geografis yang sempit namun strategis.
Petrodolar mungkin belum runtuh, tetapi ia tidak lagi tak tergoyahkan. De-dolarisasi, meski belum dominan, telah menjadi arus bawah yang semakin kuat. Dalam konteks ini, setiap kapal yang melintasi Hormuz tidak hanya membawa energi, tetapi juga membawa pertanyaan “apakah dunia masih akan berputar pada satu mata uang, atau mulai bergerak menuju sistem yang lebih terdistribusi?” Jawaban ini belum final. Namun satu hal pasti, Selat Hormuz akan tetap menjadi titik uji utama bagi masa depan tatanan ekonomi global.
*Penulis adalah Pemerhati Isu Strategis dan Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjdjaran