Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia. Foto: Tangkapan layar siaran YouTube Metro TV.
Kredit Perbankan Melejit, Bos OJK Pede Indonesia Bisa Halau Gejolak Global
Husen Miftahudin • 3 September 2026 10:21
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi optimistis Indonesia bisa menghalau segala dampak perekonomian yang ditimbulkan dari gejolak ekonomi global. Ini ditopang dari kondisi sektor jasa keuangan yang indikatornya menunjukkan dalam kondisi 'sehat'.
"Kita harus bisa melihat semua permasalahan kita secara bijak, dan bersama-sama menumbuhkan optimisme di tengah segala keterbatasan yang saat ini memang kita hadapi," ucap Friderica dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Ia mengakui, dinamika geopolitik membawa dampak signifikan bagi perekonomian domestik. Hal tersebut tak hanya berimbas bagi Indonesia, melainkan juga berdampak bagi hampir seluruh negara di dunia.
"Ini memang tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, tapi juga dihadapi oleh seluruh negara di dunia dengan adanya gejolak geopolitik, kemudian menyebabkan harga minyak (melonjak) dan lain-lain," papar dia.
Karena itu, tantangan hambatan geopolitik terhadap perekonomian Indonesia mesti disikapi secara bijak dan prudent. Mengingat sejumlah indikator perekonomian Indonesia yang menunjukkan perbaikan.
Kondisi sektor jasa keuangan sehat
Friderica menilai kondisi sektor jasa keuangan Indonesia secara umum masih cukup sehat. Hal tersebut tercermin dari sejumlah indikator, termasuk rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) serta indikator likuiditas.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi dasar bagi OJK untuk tetap optimistis terhadap kemampuan sektor jasa keuangan dalam mendukung perekonomian.
"Ini memang kalau kita melihat sebenarnya sektor jasa keuangan kita, dengan CAR sangat sehat, kemudian AL/DPK juga, kemudian berbagai indikator lainnya, sebenarnya kita cukup optimistis," ujarnya.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Kredit perbankan capai Rp9.135 triliun
OJK juga mencatat, pertumbuhan intermediasi perbankan terus berada di level dua digit. Kredit perbankan mencapai Rp9.135 triliun atau tumbuh 13,58 persen. Pertumbuhan tersebut bahkan melampaui target yang ditetapkan OJK pada awal tahun.
"Intermediasi di sektor perbankan terus tumbuh. Angkanya 13,50 persen. Kredit terus bertumbuh, sudah double digit, dan ini bahkan lebih tinggi daripada target yang ditargetkan oleh OJK pada saat pertemuan tahunan industri jasa keuangan," ungkap dia.
OJK sebelumnya menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 12 persen pada tahun ini. Namun, realisasi pertumbuhan kredit telah berada di atas target tersebut.
Selain kredit, dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga mencatat pertumbuhan dua digit. Friderica menyebut DPK tumbuh 11,21 persen dengan nilai mencapai sekitar Rp10.300 triliun.
Pertumbuhan kredit dan DPK tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kondisi intermediasi sektor perbankan tetap berjalan di tengah ketidakpastian ekonomi global.