Makin Ngacir di Tengah Ketidakpastian Global, Harga Emas Diramal Tembus USD5.300

Ilustrasi emas batangan. Foto: goldmarket.fr

Makin Ngacir di Tengah Ketidakpastian Global, Harga Emas Diramal Tembus USD5.300

Husen Miftahudin • 28 January 2026 12:34

Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan akan melanjutkan tren kenaikannya pada perdagangan hari ini setelah mencatat penguatan signifikan selama beberapa hari terakhir.

Harga logam mulia yang dikenal sebagai aset safe-haven ini telah mengalami reli kuat, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan sentimen pasar yang mencari perlindungan dari volatilitas ekonomi global. Data awal perdagangan menunjukkan emas tembus rekor tertinggi baru di sekitar USD5.220 per troy ons, menandai pertumbuhan harga yang luar biasa.

Berdasarkan analisa dari Dupoin Futures Andy Nugraha, XAU/USD telah menguat untuk hari ketujuh berturut-turut, dengan kenaikan lebih dari 0,60 persen pada sesi perdagangan terakhir. Menurut dia, dorongan utama penguatan harga emas kali ini datang dari ketegangan geopolitik global yang memicu permintaan akan aset lindung nilai.

"Selain itu, potensi intervensi di pasar valuta asing, terutama untuk memperkuat yen Jepang, turut memperkuat posisi emas sebagai pelarian investasi saat pasar mengalami tekanan," jelas Andy dalam analisis harian, Rabu, 28 Januari 2026.

Secara teknikal, Andy mencatat kombinasi pola candlestick bullish dan indikator Moving Average menunjukkan bias pasar belum berubah dimana tren bullish tetap dominan. Struktur teknikal ini memperlihatkan momentum penguatan masih kuat dan membuka peluang emas bergerak lebih tinggi.

Jika tekanan pembelian berlanjut, Nugraha melihat XAU/USD berpotensi menembus level psikologis penting di sekitar USD5300, yang akan menjadi konfirmasi kuat atas lanjutan tren positifnya. Namun, ia juga mengingatkan jika pasar gagal mempertahankan kenaikan ini, koreksi teknikal dapat mengarah pada penurunan menuju level support di sekitar USD5.155.

Grafik pergerakan harga memperlihatkan sentimen pasar masih didominasi oleh ekspektasi risiko global yang tinggi, termasuk perang dagang dan ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat. Headlines terbaru mencatat emas tetap menarik minat investor karena pelemahan dolar AS, indeks dolar AS (DXY) terus mengalami tekanan, jatuh ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, yang pada gilirannya membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam USD menjadi lebih menarik bagi pembeli global.
 

Baca juga: Nyaris Sentuh USD5.200/Ons, Harga Emas Dunia Cetak Rekor Lagi


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Klaim Trump dolar AS masih 'cukup kuat'


Faktor fundamental lain yang turut memengaruhi sentimen harga emas, jelas Andy, adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang nilai dolar yang 'cukup kuat', yang justru membuat indeks DXY tertekan lebih jauh. Analis pasar menilai pernyataan tersebut menunjukan inkonsistensi pandangan kebijakan fiskal dan moneter di AS, sehingga memperkuat aliran modal ke aset aman seperti emas.

Selain itu, para pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada keputusan Federal Reserve (The Fed) yang akan dirilis hari ini. Meskipun suku bunga diprediksi akan tetap pada kisaran saat ini, komentar dari Ketua Fed Jerome Powell diperkirakan akan menjadi katalis penting dalam menentukan arah pasar selanjutnya.

"Komentar dovish berpotensi memicu tekanan lanjutan pada dolar AS dan mendorong emas lebih tinggi, sementara narasi hawkish bisa menahan reli harga emas dalam jangka pendek," papar Andy.

Dampak dari ketidakpastian ekonomi global juga tercermin pada data ekonomi AS terbaru, termasuk penurunan tajam dalam Indeks Kepercayaan Konsumen yang mencatatkan level terendah sejak 2014. Data ini mempertegas tekanan terhadap sentimen konsumen dan menambah dorongan bagi investor untuk masuk ke aset aman.

Dalam konteks tersebut, prediksi harga emas hari ini menegaskan bias bullish jangka pendek, dengan fokus pada level USD5.300 sebagai target kenaikan dan USD5.155 sebagai ambang support kunci jika terjadi koreksi.

"Trader dan investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan geopolitik, data ekonomi makro, dan keputusan kebijakan moneter, yang semuanya dapat memberikan momentum tambahan atau memicu reaksi pasar yang signifikan sepanjang hari," kata Andy mengingatkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)